Kamis, 02 Agustus 2012

Tanya Jawab Seputar NASA


BEBERAPA PERTANYAAN SEPUTAR PUPUK DAN BUDIDAYA TANAMAN DENGAN PRODUK NASA


  • Dosis , cara dan waktu aplikasi prod NASA untuk sawit yang sudah berbuah?
Dosis ideal 3,5-5 kg POWER NUTRITION per 4-6 bulan sekali , diawal musim hujan dan diakhir musim hujan, dengan cara dikocor, atau ditabur ke piringan (bersama atau tidak dengan NPK).
  • Bisakah memupuk sawit dengan POWER tanpa menggunakan air?
Prinsip memupuk agar bisa diserap oleh tanaman adalah ketersediaan air ditanah (kadar air dalam tanah). Jika tanah cukup lembab , efisiensi pemupukan Makro ataupun dengan POWER akan cukup tinggi, sebaliknya jika kadar air tanah sangat rendah (karena kemarau panjang) sebaiknya pemupukan dengan system pengocoran atau menunda pemupukan dahulu.
  • Kelapa sawit produksi sudah lama tidak dipupuk/ diurus, dosis NASA berapa dan efek berapa lama?
Melihat kasus diatas sebaiknya aplikasi pupuk yang ideal adalah 3,5 ? 5 kg SUPERNASA atau POWERNUTRITION dan dengan NPK atau pupuk makro majemuk dengan dosis rekomendasi dari dinas pertanian setempat dengan cara ditaburkan (jika kadar air tanah cukup) atau dikocorkan jika tanah kering dengan air 5 liter per pokok.Efek pupuk bagi tanaman dipengaruhi antara lain oleh kondisi keasaman tanah, kadar air tanah, genetika tanaman , sejarah pemupukan lahan dll. Untuk pengalaman untuk tanaman sawit pengaruh pemupukan akan tampak antara1-4 bulan tergantung kondisi stress tanaman tersebut.
  • Tanaman sawit kuning di rawa bagaimana aplikasi dengan prod NASA?
Untuk mengatasinya harus bersama2 lakukan teknis sebagai berikut :

Buat parit parit drainase, bersihkan piringan dan rintis, lakukan pemupukan dengan dolomit , lakukan pemupukan 1 bulan setelah aplikasi dolomit dengan pupuk TSP/SP36, atau pupuk NPK/MAKRO, yang dicampur dengan SUPERNASA yang memiliki daya kerja terbaik sebagai pembenah tanah.
  • Bagaimana komposisi produk NASA terbaik untuk tanaman sawit produksi yang ditanam ditanah rawa (rendahan) ?
Gunakan SUPERNASA 2,5 kg dan POWER NUTRITION 2,5 kg per hektar per 6 4-6 bulan sekali.
  • Berapa pengurangan pupuk makro yang ?aman ?jika sudah menggunakan POWER NUTRITION 3,5 ? 5 kg per hektar per 6 bulan?
Pengurangan sebaiknya maksimal 50% dari dosis rekomendasi setempat.
  • Bagaimana aplikasi produk NASA jika disemprotkan pada bibit sawit dan sawit dibawah 2 tahun?
Untuk penyemprotan di pembibitan gunakan POC NASA 4-5 tutup dan HORMONIK 1 tutup per tangki merata . dan untuk tanaman TBM disemprotkan per tangki untuk 10-15 tanaman
  • Berapa persen kenaikan Kelapa Sawit yang menggunakan Produk NASA?
Perlu ditekankan bahwa yang berpengaruh terhadap peningkatan produksi bukan hanya produk NASA saja, namun banyak faktor lain termasuk pupuk Makro, air, genetis tanaman, hama penyakit, iklim,sejarah lahan, dll. Pengalaman berkisar antara 25% bahkan ada yang 150%.
  • Apa keistimewaan produksi sawit yang telah menggunakan produk NASA POWER NUTRITION?
Berbuah lebih kontinyu/ tidak terlalu mengalami trek buah seperti halnya tanaman sawit umumnya, ekstraksi lebih tinggi,berat janjang lebih berat, umur produksi lebih panjang, tanaman lebih cepat dewasa.
  • Untuk pemupukan pohon kelapa kira2 pupuk yang digunakan apa saja ? dan berapa kira2 dosis untuk 1 pohon?
Untuk kelapa yang produksi POWER NUTRITION per pokok 25-30 gram, 2-3 kali pertahun. Dalam setiap aplikasi bisa dicampurkan dengan makro . Dosis Makro berkisar : Urea 0,75-1,5 kg., TSP 0,25-1 kg, KCl 1,25-2 kg, per batang pertahun.
  • Produk NASA yang berguna untuk membusukkan jerami itu apa namanya?
Pembusukan jerami bisa dipercepat dengan penggunaan Supernasa yang dikocorkan dan ditaburkan dolomit di atas tumpukan jerami yang akan dibusukkan. Dan menutup tumpukan tersebut dengan plastik / seresah/daun 2 kelapa
  • Apakah dalam aplikasinya POWER NUTRITION bisa dicampur dengan pupuk makro/pupuk kimia?
POWER NUTRITION / produk pupuk dari NASA mengandung unsur mikro, sedangkan untuk kebutuhan tanaman juga membutuhkan pupuk makro, sehingga dalam aplikasi produk NASA sangat disarankan Bapak masih tetap menggunakan pupuk makro/kimia.
  • Apakah POC + Hormon dapat diaplikasikan pada padi yang sudah lewat masa pemupukan? Apakah masih akan diserap tanaman dan memberikan hasil?
POC NASA dan hormonik maupun jenis pupuk lain akan bisa diserap optimal selagi tanaman tumbuh vegetatif. Saat fase generatif, efek / efisiensi pemupukan sudah sangat rendah, meskipun masih bisa .
  • Apakah sekarang NASA mengeluarkan pupuk organik serbuk yang dalam aplikasinya tidak lagi menggunakan urea?
Produk pupuk terbaru dari NASA adalah GREEN STAR yang organik , dengan kandungan unsur 2 mikro, hormon dan sedikit makro dan berbentuk serbuk, namun di lapangan kami menyarankan tetap menggunakan pupuk makro.
  • Perendaman benih padi dengan POC waktunya berapa lama?
1-2 cc/liter air dan direndam 12 jam.
  • Untuk mengatasi cabe yang kriting bgmn ?
Cabe terkena serangan trips atau apids. Untuk itu perlu dilakukan penyemprotan dengan pentana, 3 hari sekali, dan untuk pencegahan serangan jenis hama yang lain bisa gunakan pestona.
  • Jika NASA dipakai bersamaan dengan PESTONA kapan waktu yang baik untuk penyemprotan ?
Jika NASA dicampurkan dengan PESTONA kami sarankan untuk disemprotkan di pagi hari untuk efektifitas PESTONA dan efisiensi pemupukan.
  • Produk apa saja yang efektif untuk memacu buah naga + aplikasinya?
POWERNUTRITION 20-25 gram per tiang dengan interval 4-6 bulan sekali , dan penggunaan Makro jangan lupa, bisa dikocorkan bersama makro atau sendiri-sendiri
  • Dalam aplikasinya bisakah POC NASA dicampur dengan pupuk biologi agrobost mikroba dan bakteri?
Meskipun bisa, namun untuk mengetahui peranan pupuk NASA akan sulit disitu, karena perbedaan cara kerja dan pengaruh terhadap lingkungan, kami sarankan memisahkan produk NASA dengan produk yang bapak sebut.
  • Untuk penanaman bawang merah pupuk apa saja yang digunakan produk NASA?
Supernasa untuk pupuk dasar, POC NASA dan HORMONIK untuk penyemprotan
  • Unsur Mo itu apa?
Merupakan unsur (Molibden) yang dibutuhkan untuk enzim reduktase NO3?, dan juga dibutuhkan untuk bakteri simbiotik yang menyemat N2 dalam bintil kacang- kacangan.
  • Sawit 2 hektar, umur 3 tahun tidak diurus, pupuk apa yang dipakai dan bagaimana proses aplikasinya?
Pemupukan lengkap, dan berimbang . Gunakan NPK / makro, , Dolomit dan Mikro (SUPERNASA dan POWERNUTRITION). Dosis SUPERNASA 2,5 kg SUPERNASA, dan 2,5 POWERNUTRITION untuk 1 ha tanaman dengan interval 3-6 bulan sekali.
  • Untuk perangsang jamur pakai prodak apa kalau dari NASA ?
POC NASA
  • Pengolahan brambang luas 250 m sprk, NASA, Glio berapa?
NASA 1 botol., SUPERNASA 1 botol, Glio 1 pak
  • Untuk tanaman Hydroponik produk dari NASA yang bisa digunakan apa?
Produk yang digunakan NASA dengan konsentrasi rendah 1 tutup untuk 20- 30 liter air.
  • Bagaimana aplikasi dan apa saja produk NASA yang dipakai untuk lahan yang 1 tahun sekali terkena air asin.
Taburkan merata dolomit 10-20 kg/1000 m? dan kocorkan SUPERNASA 1 kg/1000 meter persegi, dan sebisa mungkin dilakukan pengolahan tanah, agar reaksi pupuk yang kita berikan bisa rata.
  • Pupuk buah (POWER NUTRITION) 500 gr untuk berapa meter ? pak?
Untuk tanaman buah semusim bisa untuk 1000 m?, untuk tanaman buah tahunan bisa dilihat di label produk , karena tergantung ukuran diameter batangnya, namun kira? berkisar 30-50 gram atau (3-5 sdm) per batang.
  • Untuk perkebunan coklat, sebaiknya 1 botol Hormonik untuk berapa pohon, dan bagaimana aplikasinya.
Kebutuhan Hormonik untuk 1 hektar Kakao (asumsi 1 hektar 300-400 pokok) kurang lebih 400 ml (4 ) botol atau 1 botol HORMONIK untuk 75-100 batang kakao dengan cara dikocorkan disekitar pokok (jarak 1-2 meter dr batang)
  • Untuk lahan yang kena limbah bekas pengeboran pertamina sudah 4 kali penanaman gagal terus, daunnya kering dan mati. Kira2 harus bagaimana penanggulangannya dengan produk NASA?
Penggunaan Dolomit diperlukan untuk menetralkan PH, dan pengocoran SUPERNASA dengan dosis 2-3 kali lipat dosis umum/biasanya cukup membantu untuk mengatasi permasalahan tanah-tanah eks tambang.
  • Semprot POC di tanaman bisa tidak dicampur dengan pupuk kimia dalam 1 tangki (15 liter) ?
Bisa hanya perlu diperhatikan pupuk kimianya jangan terlalu banyak (terutama Urea) karena daun bisa terbakar , cukup NPK 1/3-1/2 sendok makan pertangki dan coba dulu dengan takaran yang kurang lebih dengan ukuran tadi .
  • Apakah tanaman cengkeh bisa panen diluar musim kalau pakai POC NASA , SUPERNASA, dan HORMONIK, dan bagaimana caranya?
Untuk tanaman cengkeh membutuhkan syarat terutama iklim selain syarat-syarat lain yang juga tidak kalah penting. Produk NASA mampu mencukupi sebagian syarat-syarat tadi (terutama unsure hara Mikro, Hormon ,dan AS, organic tanah), namun untuk syarat yang lain seperti ketinggian tempat, air, bunsur makro juga harus dicukupi agar cengkeh bisa berbuah diluar musim. Namun setidaknya dengan menggunakan produk NASA mampu meningkatkan produksi cengkeh, sehingga mampu memberikan keuntungan lebih tinggi bagi petani.Caranya dengan menggunakan pupuk NASA dengan rutin, dan penyiraman yang cukup sehingga faktor intern dalam tanaman itu sendiri tidak menjadi factor penghambat lagi untuk berbuah (bahkan di luar musim) jika syarat yang lain sudah tercukupi.
  • Apakah ada efek negative jika tanaman padi yang berumur 25 hari dikasih dolomite 25 kg, SUPERNASA 2 botol, dan POWERNUTRITION 2 botol , KCl 10 kg pada lahan 2100 meter, karena saat olah lahan tidak pakai.
Bisa saja pak meskipun untuk Dolomit dan SUPERNASA sebaiknya sejak awal olah tanah (karena sifatnya yang lambat tersedia) , sedangkan untuk POWER NUTRITION dan KCL bisa diberikan saat padi sudah mulai muncul bunga (akhir masa pertumbuhan vegetatif)
  • SUPERNASA bisa tidak untuk mempercepat proses pematangan pupuk kandang mentah?mohon dosis dan rekomendasi aplikasinya.
Produk NASA bukan berbasiskan teknologi bakteri sehingga bukan sebagai penghancur pupuk kandang, namun produk NASA (SUPERNASA) bisa berperan sebagai media yang disukai oleh dekomposer, sehingga secara tidak langsung mempercepat pertumbuhannya dan mempercepat proses penghancuran bahan organik, serta menyediakan nutrisi2 yang sudah dalam bentuk siap pakai oleh tanaman. Cara yang bisa dilakukan dengan menaburkan/mengocorkan 5-10 sendok makan secara merata pada tumpukan pupuk kandang/kompos yang akan diperam.
  • Karena saya lihat di VCD kalau sawit bisa dipanen bila sudah berumur 3 tahun. Apakah karet juga sama..bisa disadap sebelum 7 tahun pakai produk NASA?
Prinsipnya tanaman akan berproduksi jika sudah memasuki masa produksi yang umumnya tanaman sawit 30 bulan setelah tanam, dan karet 5 tahun keatas. Penggunaan produk NASA mampu mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga lebih cepat mencapai masa dewasa dan berproduksi. Pengalaman menggunakan produk NASA untuk sawit 30 bulan bisa panen (tanpa mengalami pembuangan buah pasir) dan karet bisa tepat umur 5 tahun (karena diameter batang sudah memenuhi persyaratan)
  • Kakak saya punya sawit umur 8 bulan. Produk NASA apa yang cocok untuk sawit yang berumur 8 bulan?
Pergunakan POC NASA dan HORMONIK (4-5 : 1 tutup per tangki) untuk penyemprotan daun 1-2 bulan sekali, dan SUPERNASA 3,5 kg/hektar per 6 bulan bisa dikocorkan atau ditaburkan bersama NPK.
  • Kalau POWER dicairkan apa bisa disemprotkan pada tanaman coklat pak?
Untuk menyemprot lewat daun kita sudah ada POC NASA dan HORMONIK, meskipun POWER bisa juga disemprotkan dengan konsentrasi rendah, namun untuk ketepatan sasaran dan cara kerjanya kami sarankan kocor atau tabur saja ke tanah.
  • SUPERNASA, POC NASA ,HORM, AERO dan BVR dicampur dan disemprotkan basah pada tanaman coklat apa bisa pak? Mohon keterangan. Tks
Semua bisa dicampur kecuali jika bertemu antara BVR dengan AERO. Karena BVR berbahan makhluk hidup tidak boleh dicampur dengan AERO.
  • Mohon informasi cara penggunaan POWER NUTRITION terhadap tanaman padi sawah tks.
Penggunaan POWER NUTRITION untuk padi sawah sebaiknya dilakukan ketika tanaman padi sudah berusia 40 hari, dengan mencampur dan menaburkan POWER dengan KCl ke lahan , yaitu saat pemupukan KCl akhir.
  • Sawah yang kurang sinar matahari / pinggir hutan hasilnya kurang baik. Bagaimana dengan penggunaan pupuk NASA?
Untuk mendapat hasil produksi yang optimal, tanaman membutuhkan syarat-syarat tumbuh antara lain sinar matahari, air, pupuk (NPK atau NASA) dll. Sehingga jika salah satu syarat tidak terpenuhi tanaman tidak akan menghasilkan sesuai dengan potensinya, termasuk dalam hal ini sinar matahari sangat utama bagi tanaman yang berhijau daun seperti padi.
  • Semangat pagi Pak! Untuk sawit 2 hektar, umur 16 tahun, pemupukan yang efektif untuk POC NASA dan HORMONIK, SUPERNASA bagaimana?
POC NASA, HORMONIK, dan SUPERNASA bisa dikocorkan ke tanaman dengan dosis 2 botol POC, 1 -2 botol HORMONIK, dan 2 botol SUPERNASA per 2 bulan. Namun sebenarnya kita ada produk yang lebih praktis yaitu dengan POWERNUTRITION bisa ditaburkan / dikocorkan bersama atau tanpa NPK , dengan kebutuhan untuk umur 16 tahun 5 kg/ ha/ 4-6 bulan sekali.
  • Apa bisa hanya menggunakan SUPERNASA untuk tanah yang sedikit mengandung pasir tuk tanaman cabai? Berapa dosisnya untuk 1000 m2?
Sebaiknya bukan hanya SUPERNASA saja tetapi juga menggunakan pupuk Makro. Karena kebutuhan unsur hara tanaman meliputi Makro, Mikro dan juga hormon. Kebutuhan SUPERNASA untuk tanah pasir 0,5-1 kg / 1000 m.
  • Bagaimana kalau POC NASA atau HORMONIK untuk manusia berbahaya atau tidak?
Meskipun bisa dikonsumsi manusia (terbukti di ternak dan ikan tidak bermasalah) karena telah melewati tahapan proses piruvatisasi tingkat III , namun tidak disarankan untuk manusia karena asal bahan dan proses pembuatannya tidak layak untuk manusia.
  • Dalam ketinggian 2500 m dpl, masa panen cabe lebih lama yaitu panen perdana 4 bulan. Kalau dipacu dengan HORMONIK atau POWER NUTRITION bagaimana?
Pertumbuhan dan produksi optimal suatu tanaman budidaya dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain pupuk,hormon, air, cahaya, genetis dll. Penggunaan pupuk apapun tidak akan berpengaruh signifikan jika syarat-syarat tadi tidak tercukupi.Namun jika syarat-syarat lain tercukupi misalnya pemilihan bibit yang tahan ketinggian dan suhu rendah, tyahan penyakit maka penggunaan produk NASA akan menunjukkan hasil yang optimal pada cabe bapak.
  • Lebih bagus manakah pemberian pupuk ZA dengan pemberian Dolomit untuk pertumbuhan tanaman?
Pupuk ZA dan Dolomit sama sama merupakan pupuk Makro, namun berbeda kandungan unsur dan cara kerja, sehingga tidak bisa diperbandingkan.
  • Apakah kalau kita memakai pupuk NPK ditambah pupuk ZA kebutuhan tanaman dari unsur hara Ca, Mg sudah tercukupi tanpa pemberian dolomit atau kaptan ?
Tergantung dari jumlah dan keberadaan unsur tersebut di tanah, dan untuk ZA bukan pupuk yang mengandung Ca dan Mg
  • Kebun karet per hektarnya perlu berapa macam produk NASA? Per pohon berapa takarannya?
Untuk karet yang sudah produksi gunakan 5 kg SUPERNASA per hektar per 4-6 bulan, atau kisaran 30-35 gram per pokok.
  • Untuk pemupukan rabuk kandang sebaiknya dicampur apa ya..pada tanaman bawang merah dan dilakukan pada waktu bawang merah umur berapa?
Glio 1 pak yang dicampur rata dengan pupuk kandang 25-30 kg dan diperam

  • Pak untuk mendapat hasil sampai kira-kira 15 ton, pupuk NASA yang digunakan per hektar biasanya berapa? Terus jenisnya apa saja?
    Produk NASA yang bisa digunakan antara lain SUPERNASA 5 kg, POWER NUTRITION 5 kg, POC NASA 5-7 liter, dan HORMONIK 1 liter, dan penggunaan NPK yang sesuai dengan standar rekomendasi dinas pertanian setempat. Namun perlu diperhatikan bahwa syarat lain selain pupuk masih sangat banyak misal air, jenis bibit, ketinggian tempat, panjang penyinaran, hama penyakit dll, sehingga pengalaman produk NASA yang bisa dipergunakan bisa menghasilkan hasil tinggi adalah juga karena faktoir lainnya mendukung.
    • Kami punya mangga dan sudah 2x berbunga, tetapi setiap berbunga, selalu rontok, tidak pernah menjadi buah..kira-kira apa penyebabnya dan bagaimana solusinya ?
    Rontoknya bunga / buah pada mangga bisa karena kurang hormon, kurang unsur kalium , kekeringan , atau hama penyakit. Gunakan POWER NUTRITION rutin 2-3 sdm + NPK 2-3 sdm per aplikasi, 1-2 bulan danjangan sampai kekeringan, dan pencegahan hama penyakit terutama penggerekbatang dan buah dengan BVR.
    • Bagaimana aplikasi GREEN STAR?
    Sama dengan penggunaan POC NASA dan HORMONIK yaitu 1 sacchet GREEN STAR dituang ke tangki, masukkan air 14-15 liet dan semprotkan untuk daun tanaman pada pagi hari. Kebutuhan untuk luasan 1000 m? (tanaman semusim) sekali semprot 3 sachet atau 1 pack.
    • Untuk pohon albasia yang tumbuhnya lambat (kerdil) sebaiknya pakai pupuk apa dan bagaimana caranya, berapa ukurannya?
    Tanaman albasia kerdil bisa juga karena bibitnya yang kurang bagus, media di bawah ada terhambat batu, ataupun terjadi hambatan penyerapan unsur hara / pupuk yang diberikan. Untuk sebab yang ketiga , bisa bapak lakukan pemupukan dengan SUPERNASA 1 sdm + NPK 1 sdm + POC NASA dan Hormonik masing 2 1 tutup per 5 liter air. Kocorkan 0,5-1 liter ke bagian bawah tanaman (piringan 1 bulan sekali) , dan usahakan tanaman jangan kekeringan agar pupuk dapat terserap.
    • Pestona, Vireksi, NASA,HORMONIK, POWER , SUPERNASA , dengan dosis kecil dalam botol dicampur untuk semprot bawang merah bagaimana?
    VIREKSI (karena berbahan dasar Virus) tidak bisa dicampur PESTONA atau pestisida lain, namun bisa dicampur sengan produk pupuk diatas. Silahkan pilih salah satu menunda penyemprotan VIREKSI nya atau PESTONAnya
    • Bagaimana cara pemupukan mangga yang udah berumur 7 tahun tidak dipelihara, supaya buahnya banyak?
    Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah memangkas daun (pangkas bentuk pohon) agar bisa berbentuk baik dan bercabang produksi lebih banyak. Kedua lakukan pemupukan dengan Dolomit 0,25 kg bisa dengan cara dikocorkan atau ditaburkan di piringan. Kemudian setelah 15 hari bisa kita pupuk dengan NPK 0,25 kg + produk NASA , kami sarankan dengan POWER NUTRITION 3 sdm . Kemudian penyiraman yang cukup agar tanaman bisa menyerap pupuk yang kita berikan. Ulangi lagi 2 bulan kedepan (tanpa dolomit) , dengan tercukupinya unsur hara, hormon dan air, semoga pohon buah bapak bisa cepat berbuah
    • Pestisida kimia (DECIS/MIDOR) apa bisa campurkan di tangki bersama POC NASA dan HORMONIK untuk disemprotkan? Aku pingin bertani cara NASA . apa ada buku panduannya?
    Pestisida bisa dicampur dengan produk pupuk dari NASA , namun aplikasi dalam penyemprotan tetap kami sarankan di pagi hari , berakhir sebelum jam 10 karena stomata akan tertutup jika cuaca panas. Untuk buku panduan dari NASA sudah lengkap baik teknis budidaya, hama dan penyakit, peternakan/ perikanan dan kesehatan manusia. Silahkan bapak beli di stokist terdekat.
    • Untuk penyemprotan padi dengan POWER NUTRITION dan HORMONIK yang bagus waktu pagi apa sore?
    POWER NUTRITION sebaiknya untuk ditaburkan bukan disemprotkan, namun jika disemprotkan dengan konsentrasi rendah bisa juga. Sebaiknya penyemprotan dilakukan pagi dengan penjelasan sama dengan pertanyaan sebelum ini.
    • Padiku umur 40 hari, apakah habis menyemprot dengan pestisida padiku boleh disemprot dengan NASA - HORMONIK, atau selang berapa hari sesudahnya?
    Tidak ada keharusan untuk menunda penyemprotan, karena produk yang bapak akan aplikasikan adalah pupuk. Lain halnya jika setelah pestisida bapak menyemprot dengan BVR.. ini akan mengurangi efektifitas penyemprotan

    Jumat, 20 Juli 2012

    Teknis Budidaya Jagung dengan NASA

    TEKNIS BUDIDAYA JAGUNG DENGAN NASA


    I. PENDAHULUAN
    Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3).

    II. SYARAT PERTUMBUHAN
    Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl

    III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

    A. Syarat benih
    Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam).

    B. Pengolahan Lahan

    Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.

    C. Pemupukan




    Waktu

    Dosis Pupuk Makro (per ha)




    Dosis POC
    NASA

    Urea (kg)

    TSP (kg)

    KCl (kg)

    Perendaman benih
    -

    -
    -

    2 - 4 cc/ lt air

    Pupuk dasar
    120
    80
    25

    20 - 40 tutup/tangki
    ( siram merata )


    2 minggu
    -
    -
    -

    4 - 8 tutup/tangki
    ( semprot/siram)


    Susulan I (3 minggu)
    115

    -
    55


    -

    4 minggu
    -
    -
    -

    4 - 8 tutup/tangki
    ( semprot/siram )


    Susulan II (6minggu)
    115
    -
    -

    4 - 8 tutup/tangki
    ( semprot/siram )


    Catatan : 
    akan lebih baik pupuk dasar menggunakan SUPER NASA dosis � 1 botol/1000 m2 dengan cara :
    • alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan. 
    • alternatif 2 : 1 gembor (10-15 lt) beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 m bedengan.
    D. Teknik Penanaman
    1. Penentuan Pola Tanaman
    Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
    a. Tumpang sari ( intercropping ),
    melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.

    b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ),
    dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.

    c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ):

    pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.

    d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) :

    penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.

    2. Lubang Tanam dan Cara Tanam
    Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang).


    E. Pengelolaan Tanaman
    1. Penjarangan dan Penyulaman
    Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.

    2. Penyiangan

    Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

    3. Pembumbunan
    Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.

    4. Pengairan dan Penyiraman
    Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

    F. Hama dan Penyakit
    1. Hama
    a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
    Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. (2) tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan. (3) Sanitasi kebun. (4) semprot dengan PESTONA.

    b. Ulat Pemotong
    Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3) Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.

    2. Penyakit

    a. Penyakit bulai (Downy mildew)
    Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) Preventif diawal tanam dengan GLIO

    b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)
    Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman. (2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; (3) Prenventif diawal dengan GLIO

    c. Penyakit karat (Rust)
    Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; (3) sanitasi kebun; (4) semprot dengan GLIO.

    d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
    Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) memotong bagian tanaman dan dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA .

    e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
    Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) GLIO di awal tanam.

    Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

    G. Panen dan Pasca Panen
    1. Ciri dan Umur Panen
    Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.

    2. Cara Panen
    Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.

    3. Pengupasan

    Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.

    4. Pengeringan
    Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.

    5. Pemipilan
    Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.

    6. Penyortiran dan Penggolongan

    Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.




    Kamis, 08 Maret 2012

    Tehnik Budidaya Pepaya

    SYARAT PERTUMBUHAN
    Tanaman dapat tumbuh pada dataran rendah dan tinggi 700 - 1000 mdpl, curah hujan 1000 - 2000 mm/tahun, suhu udara optimum 22 - 26 derajat C dan kelembaban udara sekitar 40% dan angin yang tidak terlalu kencang sangat baik untuk penyerbukan. Tanah subur, gembur, mengandung humus dan harus banyak menahan air, pH tanah yang ideal adalah netral dengan pH 6 -7.

    PEMBIBITAN
    1. Persyaratan Bibit/Benih
    • Biji-biji yang digunakan sebagai bibit diambil dari buah-buah yang telah masak benar dan berasal dari pohon pilihan. Buah pilihan tersebut di belah dua untuk diambil biji-bijinya. Biji yang dikeluarkan kemudian dicuci bersih hingga kulit yang menyelubungi biji terbuang lalu dikeringkan ditempat yang teduh.
    • Biji yang segar digunakan sebagai bibit. Bibit jangan diambil dari buah yang sudah terlalu masak/tua dan jangan dari pohon yang sudah tua.
    2. Penyiapan Benih
    Kebutuhan benih perhektar 60 gram (� 2000 tanaman). Benih direndam dalam larutan POC NASA 2 cc/liter selama 1-2 jam, ditiriskan dan ditebari Natural GLIO kemudian disemai dalam polybag ukuran 20 x 15 cm. Media yang digunakan merupakan campuran 2 ember tanah yang di ayak ditambah 1 ember pupuk kandang yang sudah matang dan diayak ditambah 50 gram TSP dihaluskan ditambah 30 gram Natural GLIO.

    3. Teknik Penyemaian Benih
    • Benih dimasukan pada kedalaman 1 cm kemudian tutup dengan tanah. Disiram setiap hari. Benih berkecambah muncul setelah 12-15 hari. Pada saat ketinggiannya 15-20 cm atau 45-60 hari bibit siap ditanam.
    • Biji-biji tersebut bisa langsung ditanam/disemai lebih dahulu. Penyemaian dilakukan 2 atau 3 bulan sebelum bibit persemaian itu dipindahkan ke kebun.
    4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
    Pada persemaian biji-biji ditaburkan dalam larikan (barisan ) dengan jarak 5 - 10 cm. Biji tidak boleh dibenam dalam-dalam, cukup sedalam biji, yakni 1 cm. Dengan pemeliharaan yang baik, biji-biji akan tumbuh sesudah 3 minggu ditanam. Semprotkan POC NASA seminggu sekali dosis 2 tutup/tangki

    5. Pemindahan Bibit
    Bibit-bibit yang sudah dewasa, sekitar umur 2 - 3 bulan dapat dipindahkan pada permulaan musim hujan.

    PENGOLAHAN MEDIA TANAM
    1. Persiapan
    Lahan dibersihkan dari rumput, semak dan kotoran lain, kemudian dicangkul/dibajak dan digemburkan.

    2. Pembentukan Bedengan
    • Bentuk bedengan berukuran lebar 200 - 250 cm, tinggi 20 - 30 cm, panjang secukupnya, jarak antar bedengan 60 cm.
    • Buat lubang ukuran 50 x 50 x 40 cm di atas bedengan, dengan jarak tanam 2 x 2,5 m.
    3. Pengapuran
    Apabila tanah yang akan ditanami pepaya bersifat asam (pH kurang dari 5), setelah diberi pupuk yang matang, perlu ditambah � 1 kg Dolomit dan biarkan 1-2 minggu.

    4. Pemupukan
    Sebelum diberi pupuk, tanah yang akan ditanami pepaya harus dikeringkan satu minggu, setelah itu tutup dengan tanah campuran 3 blek pupuk kandang yang telah matang atau dengan SUPERNASA.

    TEKNIK PENANAMAN
    1. Pembuatan Lubang Tanam
    • Lubang tanam berukuran 60 x 60 x 40 cm, yang digali secara berbaris. Biarkan lubang-lubang kosong agar memperoleh cukup sinar matahari. - - Setelah itu lubang-lubang diisi dengan tanah yang telah dicampuri dengan pupuk kandang 2 - 3 blek. Jika pupuk kandang tidak tersedia dapat dipakai SUPERNASA dengan cara disiramkan kelubang tanam dosis 1 sendok makan/10 lt air sebelum tanam. Lubang - lubang yang ditutupi gundukan tanah yang cembung dibiarkan 2-3 hari hingga tanah mengendap. Setelah itu baru lubang-lubang siap ditanami. Lubang-lubang tersebut diatas dibuat 1-2 bulan penanaman.
    • Apabila biji ditanam langsung ke kebun, maka lubang - lubang pertanaman harus digali terlebih dahulu. Lubang-lubang pertanaman untuk biji-biji harus selesai � 5 bulan sebelum musim hujan.
    2. Cara Penanaman
    Tiap-tiap lubang diisi dengan 3-4 buah biji. Beberapa bulan kemudian akan dapat dilihat tanaman yang jantan dan betina atau berkelamin dua.

    PEMELIHARAAN TANAMAN
    1. Penjarangan dan Penyulaman
    Penjarangan tanaman dilakukan untuk memperoleh tanaman betina disamping beberapa batang pohon jantan. Hal ini dilakukan pada waktu tanaman mulai berbunga.

    2. Penyiangan
    Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan penyiangan (pembuangan rumput). Kapan dan berapa kali kebun tersebut harus disiangi tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.

    3. Pembubunan
    Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan pendangiran tanah. Kapan dan berapa kali kebun tersebut harus didangiri tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.

    4. Pemupukan
    Pohon pepaya memerlukan pupuk yang banyak, khususnya pupuk organik, memberikan zat-zat makanan yang diperlukan dan dapat menjaga kelembaban tanah.
    Cara pemberian pupuk:
    • Tiap minggu setelah tanam beri pupuk kimia, 50 gram ZA, 25 gram Urea, 50 gram TSP dan 25 gram KCl, dicampur dan ditanam melingkar.
    • Satu bulan kemudian lakukan pemupukan kedua dengan komposisi 75 gram ZA, 35 gram Urea, 75 gram TSP, dan 40 gram KCl
    • Saat umur 3-5 bulan lakukan pemupukan ketiga dengan komposisi 75 gram ZA, 50 gram Urea, 75 gramTSP, 50 gram KCl
    • Umur 6 bulan dan seterusnya 1 bulan sekali diberi pupuk dengan 100 gram ZA, 60 gram Urea, 75 gramTSP, dan 75 gram KCl
    • Siramkan SUPERNASA ke lubang tanam dengan dosis 1 sendok makan/10 liter air setiap 1-2 bulan sekali
    • Lakukan penyemprotan POC NASA dosis 3 tutup / tangki setiap 1-2 minggu sekali setelah tanam sampai umur 2-3 bulan
    • Setelah umur 3 bulan semprot dengan POC NASA 3 - 4 tutup ditambah HORMONIK dosis 1 - 2 tutup / tangki.
    • Penyemprotan hati - hati pada saat berbunga agar tidak kena bunga yang mekar atau lebih aman bisa disiramkan.
    5. Pengairan dan Penyiraman
    Tanaman pepaya memerlukan cukup air tetapi tidak tahan air yang tergenang. Maka pengairan dan pembuangan air harus diatur dengan seksama. Apalagi di daerah yang banyak turun hujan dan bertanah liat, maka harus dibuatkan parit-parit. Pada musim kemarau, tanaman pepaya harus sering disirami.

    HAMA DAN PENYAKIT
    1. Kutu tanaman (Aphid sp., Tungau). Badan halus panjang 2 - 3 mm berwarna hijau, kuning atau hitam. Memiliki sepasang tonjolan tabung pada bagian belakang perut, bersungut dan kaki panjang. Kutu dewasa, ada yang bersayap dan tidak. Merusak tanaman dengan cara menghisap cairan dengan pencucuk penghisap yang panjang di bagian mulut. Pengendalian : semprot dengan Natural BVR atau PESTONA secara bergantian
    2. Penyakit yang sering merugikan tanaman pepaya adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur, virus mosaik, rebah semai, busuk buah, leher akar, pangkal batang dan nematoda.
    3. Penyakit mati bujang diisebabkan oleh jamur Phytophthora parasitica, P. palmivora dan Pythium aphanidermatum. Menyerang buah dan batang pepaya. Cara pencegahan: perawatan kebun yang baik, menjaga kebersihan, dan drainase serta sebarkan Natural GLIO ke lubang tanam, sedangkan penyakit busuk akar disebabkan oleh jamur Meloidogyne incognita.
    4. Nematoda. Apabila lahan telah ditanami pepaya, disarankan agar tidak menanam pepaya kembali, untuk mencegah timbulnya serangan nematoda. Tanaman yang terinfeksi oleh nematoda menyebabkan daun menguning, layu dan mati. Pengendalian : Siramkan PESTONA ke lubang tanam
     PANEN DAN PASCA PANEN
    1. Ciri dan Umur Panen
    Tanaman pepaya dapat dipanen setelah berumur 9-12 bulan. Buah pepaya dipetik harus pada waktu buah itu memberikan tanda-tanda kematangan: warna kulit buah mulai menguning. Tetapi masih banyak petani yang memetiknya pada waktu buah belum terlalu matang.

    2. Cara Panen
    Panen dilakukan dengan berbagai macam cara, pada umumnya panen/pemetikan dilakukan dengan menggunakan "songgo" (berupa bambu yang pada ujungnya berbentuk setengah kerucut yang berguna untuk menjaga agar buah tersebut tidak jatuh pada saat dipetik).

    3. Periode Panen
    Panen dilakukan setiap 10 hari sekali.

    Sabtu, 08 Oktober 2011

    Jaminan Pembelian Produk NASA di tempat kami.

    Menaggapi beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya selaku pengelola blog ini baik melalui telepon, sms ataupun email, maka saya akan memberikan beberapa pertimbangan dan bukti kepada anda bahwa pesanan anda saya jamin dikirim.

    Dalam bisnis Online maka yang harus dijaga adalah kepercayaan. Sekali saya berbohong, maka orang tidak akan percaya lagi pada saya. untuk itu, saya akan berusaha untuk menjaga kepercayaan ini dan sampai saat ini banyak orang yang sudah memesan produk Natural Nusantara kepada kami.
    "Apa jaminannya jika anda tidak berbohong dan barang/pesanan pasti dikirim...?"

    Begitulah kira kira pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya.

    Pasti kebanyakan orang yang berjualan dengan system online akan bingung untuk menjawabnya terutama saya dulu awal mula merintis bisnis ini.

    Coba anda searching di Google dengan kata kunci :


    Atau klik disini atau silahkan lihat gambar dibawah ini.



    Jaminan saya adalah BLOG SAYA ini...
    Urutan ke-1, ke-2, ke-3 pada pencarian kata kunci "Distributor Pupuk Tanaman" .

    Saya juga mempunyai beberapa blog yang juga menjual produk Natural Nusantara.
    Silahkan serching di GOOGLE dengan kata kunci :

    1. Distributor Pupuk Organik (Rangking ke-3 kata kunci tersebut)



    2. Distributor Natural Nusantara (Rangking ke-1 kata kunci tersebut)



    Itulah jaminan saya sebagai Distributor Resmi Produk Natural Nusantara. 

    Untuk pemesanan, silahkan hubungi Distributor Pupuk Natural Nusantara wilayah Yogyakarta atau Daftar Distributor Nasa di kota anda.
    Contact Person : Nur Haryono
    Alamat             : Ngadisuryan KT I/211 Yogyakarta 55133
    HP                   : 0817 042 9050 (SMS/Telp)
    Email               : pupuk.nasa@yahoo.com
    Rekening         :  
    • BCA KCP. Dahlan Yogyakarta. No.Rek. 1691855363 a/n Nur Haryono 
    • Mandiri KCP.Ahmad Dahlan Yogyakarta No.Rek. 137-00-0780365-9 a/n Nur Haryono
    Website/Blog :

    � http://distributor-pupuk-tanaman.blogspot.com/
    � http://distributor-pupuk-organik.blogspot.com/
    � http://distributor-natural-nusantara.blogspot.com/


    Jumat, 30 September 2011

    BusukPangkalBatang Kelapa Sawit

    Penyakit Busuk Pangkal Batang pada Kelapa Sawit


    1. Biologi
    Penyakit ini memiliki banyak nama di seluruh dunia, tetapi selalu menjadi penyakit yang mematikan pada kelapa sawit. Busuk pangkal batang kelapa sawit disebabkan oleh jamur Ganoderma. Jamur Ganoderma lebih dikenal sebagai obat herbal di China, Korea dan Jepang. Ganoderma tergolong dalam kelas Basidiomycetes, penyebab utama penyakit akar putih pada tanaman berkayu dengan menguraikan lignin yang mengandung selulosa dan polisakarida. Ganoderma dapat tumbuh dengan baik pada media buatan dengan memproduksi organ somatif. Pengisolasiannya dapat dilakukan dengan menanam jaringan sakit atau bagian dari jaringan korteks basidiokarp. Ganoderma yang ditumbuhkan pada media PDA (Potato Dextrose Agar) dapat tumbuh lebih baik daripada yang ditumbuhkan di media MA (Malt Agar), MEA (Malt Extract Agar), CMA (Corn Meal Agar), dan CDA (Czapek�s Dox Agar). Media LBA (Lima Bean Agar) lebih baik dibandingkan RDA (Rice Dextrose Agar), sama dengan PDA.

    Gambar 1. Tubuh buah Ganoderma boninense

    Basidiospora akan berkecambah 30 jam setelah dipindahkan dari permukaan tubuh buah dengan tingkat germinasi sekitar 31.5 � 64%. Ganiderma boninense dapat tumbuh lebih baik jika pada media ditambahkan sumber karbon seperti dekstrosa, fruktosa, galaktosa, sakarosa, maltose, laktosa dan selulosa. Pertumbuhannya juga dipengaruhi dengan sumber nitrogen yang digunakan. Setiap isolat memberikan respon yang berbeda terhadap perbedaan sumber nitrogen diantaranya NaNO2, NaNO3, NH4NO3, (NH4)2HPO4, asparagin, glisin, dan pepton. Suplemen biotin dapat meningkatkan perkecambahan basidiospora. Miselia G. boninense dapat tumbuh dan membentuk basidiokarp pada media serbuk batang kelapa sawit, serbuk batang kelapa sawit + biotin, potongan akar kelapa sawit, dan potongan akar kelapa sawit + biotin. Bakal basidiokarp mulai terbentuk 30 hari setelah inokulasi, dan tumbuh sempurna setelah 90 hari.

    Di Indonesia, Ganoderma boninense dapat tumbuh pada pH 3-8.5 dengan temperature optimal 30oC dan terganggu pertumbuhannya pada suhu 15oC dan 35oC, dan tidak dapat tumbuh pada suhu 40oC (Abadi dan Dharmaputra, 1988; Dharmaputra et al., 1993). Penyebab busuk pangkal batang pada kelapa sawit berbeda di tiap negara. Di Afrika Selatan, busuk pangkal batang disebabkan oleh G. lucidum Karst. sedangkan di Nigeria disebabkan oleh G. zonatum, G. encidum, G. colossus, dan G. applanatum. Di Malaysia, 4 spesies teridentifikasi sebagai penyebab busuk pangkal batang yaitu G. boninense, G. miniatocinctum, G. zonatum dan G. tornatum. Jamur yang paling sering ditemukan umumnya ialah G. boninense, sementara G. tornatum hanya ditemukan tumbuh di pedalaman dan dataran tinggi dengan curah hujan tinggi. Di Indonesia, G. boninense teridentifikasi sebagai spesies yang paling umum menyerang (Abadi, 1987; Utomo, 2002).

    Jamur Ganoderma tergolong ke dalam kelas basidiomycetes. Famili ganodermataceae telah dikenal luas sebagai patogen di banyak tanaman termasuk kelapa sawit. Jamur lignolitik umumnya termasuk dalam jamur busuk putih yang digolongkan ke dalam basidiomycetes. Karena itulah, jamur ini lebih aktif menghancurkan lignin dibandingkan golongan lainnya. Komponen pembentuk dinding sel tanaman adalah lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Dengan demikian, untuk menyerang tanaman, jamur harus menghancurkan ketiga komponen tersebut dengan enzim ligninase peroxidase, selulose dan hemiselulose. Beberapa spesies Ganoderma memproduksi enzim amylase, ekstraseluler, oksidase, invertase, koagulase, protease, renetase, pektinase, dan selulose. Berdasarkan mekanisme infeksi, Ganoderma diklasifikasikan kedalam jamur busuk putih. Jamur busuk putih ini diklasifikasikan berdasarkan kecepatan dan produksi dari enzim lignolitik (Ward et al., 2004).

    G. lucidum memproduksi manganese peroksidase (MnP), dan lakase; sama dengan enzim dari G. boninense yang menyerang kelapa sawit tetapi masih memerlukan penelitian lebih lanjut (Corley dan Tinker, 2003). Jamur busuk putih memproduksi sistem lignolitik yang tidak spesifik terdiri dari peroksidase dan lakase (phenol oksidase: LAC), yang melakukan proses oksidasi (Peterson, 2007). Tiga peroksidase telah diobservasi yaitu: LIP, MnP dan versatile peroksidase (VP). Biodegradasi dari komponen selulosa tidak berbeda nyata untuk dibandingkan dengan yang dibentuk oleh b-1,4-glucosidic, ikatan sederhana dari glukosa. Miller et al. (2000) mengemukakan bahwa Ganoderma merupakan �saprobic� dan hanya menyerang tanaman inang yang lemah, sehingga dikategorikan sebagai parasit atau patogen sekunder. Penjelasan lain dari jamur ialah sebagai saprofit fakultatif. Ganoderma juga hidup sebagai endofit dalam kelapa (Abdullah, 2000).

    Gejala Penyakit

    Akumulasi daun tombak dan pengeringan pelepah

    Gejala awal penyakit sulit diidentifikasi dikarenakan perkembangannya yang lambat dan dikarenakan gejala eksternal berbeda dengan gejala internal. Sangat mudah untuk mengidentifikasi gejala di tanaman dewasa atau saat telah membentuk tubuh buah, konsekuensinya, penyakit jadi lebih sulit dikendalikan. Gejala utama BSR adalah terhambatnya pertumbuhan, warna daun menjadi hijau pucat dan busuk pada batang tanaman (Gambar 2 dan 3). Pada tanaman belum menghasilkan, gejala awal ditandai dengan penguningan tanaman atau daun terbawah diikuti dengan nekrosis yang menyebar ke seluruh daun. Pada tanaman dewasa, semua pelepah menjadi pucat, semua daun dan pelepah mengering, daun tombak tidak membuka (terjadinya akumulasi daun tombak) dan suatu saat tanaman akan mati (Purba, 1993).

    Gambar 3. Tanaman kelapa sawit yang tumbang karena Ganoderma

    Gejala ditandai dengan mati dan mengeringnya tanaman dapat terjadi bersamaan dengan adanya serangan rayap. Dapat diasumsikan jika gejala pada daun terlihat, maka setengah batang kelapa sawit telah hancur oleh Ganoderma. Pada tanaman belum menghasilkan, saat gejala muncul, tanaman akan mati setelah 7 sampai 12 bulan, sementara tanaman dewasa akan mati setelah 2 tahun. Saat gejala tajuk muncul, biasanya setengah dari jaringan didalam pangkal batang sudah mati oleh Ganoderma. Sebagai tambahan, gejala internal yang ditandai dengan busuk pangkal batang muncul. Dalam jaringan yang busuk, luka terlihat dari area berwarna coklat muda diikuti dengan area gelap seperti bayangan pita, yang umumnya disebut zona reaksi resin (Semangun, 1990).

    Secara mikroskopik, gejala internal dari akar yang terserang Ganoderma sama dengan batang yang terinfeksi. Jaringan korteks dari akar yang terinfeksi berubah menjadi coklat sampai putih. Pada serangan lanjutan, jaringan korteks menjadi rapuh dan mudah hancur. Jaringan stele akar terinfeksi menjadi hitam pada serangan berat (Rahayu, 1986). Hifa umumnya berada pada jaringan korteks, endodermis, perisel, xilem dan floem. Klamidospora sering dibentuk untuk bertahan hidup pada kondisi ekstrim. Tanda lain dari penyakit ialah munculnya tubuh buah atau basidiokarp pada pangkal batang kelapa sawit (Gambar 4).

    Gejala penyakit Ganoderma di lahan gambut memiliki perbedaan dengan di lahan mineral. Perbedaan ekologi antara tanah gambut dengan tanah mineral, keistimewaan dan karakteristik lahan menentukan perbedaan keistimewaan, karakteristik dan mekanisme persebaran Ganoderma. Tingginya kemunculan penyakit Ganoderma pada lahan gambut kemungkinan besar disebabkan oleh basidiospora sebagai agen penyebar, dan lahan gambut umumnya cocok untuk perkembangan Ganoderma. Pola kemunculan gejala pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut juga berbeda. Gejala serangan buruk batang atas lebih sering terjadi, bahkan sampai lebih dari 63%. Fakta ini terlihat dari sampel yang diambil dari Labuhan Batu, dengan perbandingan BSR:USR sebesar 37%:63% (Susanto et al., 2008). Perbandingan busuk pangkal batang dan busuk batang atas sangat berhubungan dengan jenis lahan gambut dan tergenang atau tidaknya dalam satu tahun. Saat tanah gambut mulai mendekati tanah mineral, busuk pangkal batang akan meningkat, sebaliknya busuk batang atas akan menurun. Lahan tergenang akan menyebabkan Ganoderma mati dan memperkuat mekanisme busuk batang atas. Pola penyebaran basidiospora melalui udara membuat busuk batang atas sebagai gejala penyakit Ganoderma.

    Arti Ekonomi

    Penyakit busuk pangkal batang adalah penyakit penting yang menyebabkan kerugian besar di perkebunan kelapa sawit (Semangun, 1990; Treu, 1998), terutama di Indonesia dan Malaysia (Turner, 1981; Darmono, 1998b). Di beberapa perkebunan di Indonesia, penyakit ini telah menyebabkan kematian tanaman sampai lebih dari 80% dari seluruh populasi kelapa sawit, dan menyebabkan penurunan produk kelapa sawit per unit area (Susanto, 2002; Susanto et al., 2002b). Dahulu G. boninense dipercaya hanya menyerang tanaman tua, namun demikian, saat ini telah dipahami bahwa patogen ini juga menyerang tanaman tanaman belum menghasilkan (< 1 tahun). Gejala penyakit muncul lebih cepat dan lebih berat pada generasi ketiga dan keempat (Gambar 6). Insiden penyakit di tanaman belum menghasilkan pada generasi pertama, kedua, ketiga dan keempat berturut-turut adalah 0, 4, 7 dan 11%. Sedangkan insiden penyakit di tanaman menghasilkan pada generasi pertama, kedua dan ketiga secara berturut-turut adalah 17, 18 dan 75% (Susanto et al., 2002a). Tingginya insiden penyakit menyebabkan banyak pekebun lebih cepat melakukan tanam ulang walaupun tanaman masih berusia 17 tahun (tanaman sehat sebenarnya masih produktif hingga berusia 25-30 tahun).

    Kerugian yang disebabkan oleh Ganoderma dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Kerugian secara langsung berupa rendahnya produksi sampai kematian tanaman, sedangkan kerugian tidak langsung berupa penurunan bobot batang terhadap tandan kelapa sawit. Tanaman terserang Ganoderma akan menderita akibat menurunnya bobot batang sehingga tanaman akhirnya tidak mampu memproduksi tandan. Untuk membantu menggambarkan kerugian yang disebabkan penyakit ini, pada perkebunan seluas 200.000 hektar yang memasuki generasi penanaman ke tiga dan ke empat, 1000 tanaman mati atau sekitar 6 hektar tidak menghasilkan. Kerugian akan semakin besar tahun demi tahun secara akumulasi. Sebagai contoh, saat tahun pertama terserang 6 hektar; tahun kedua terserang 12 hektar; dan seterusnya. Karena itu, potensi kerugian meningkat seiring semakin tuanya tanaman, dan semakin produktifnya tanaman.

    Saat ini, pertumbuhan penyakit Ganoderma di perkebunan kelapa sawit terutama dipicu oleh generasi perkebunan. Semakin tinggi generasi perkebunan, semakin parah serangan penyakit hingga menyerang tanaman belum menghasilkan. Pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut, perkembangan infeksi Ganoderma cenderung meningkat (Tabel 1), yang disebabkan oleh mekanisme pemencaran melalui basidiospora.

    Spesies Ganoderma yang bersifat patogenik pada kelapa sawit memiliki kisaran inang yang luas. Pada habitat alaminya di hutan, jamur ini dapat menyerang tanaman berkayu. Selain menyerang E. guineensis dan Albizia sp., G. boninense dapat menyerang anggota palem-paleman seperti Cocos nucifera, Livistona subglobosa, Casuarina tolurosa, dan Areca spp (Gambar 8). Di daerah pesisir, dua spesies palem-paleman, dikenal dengan nibung (Oncosperma filamentosa) dan serdang (Livistona cochichinensis), juga terserang penyakit. Telah dilaporkan juga bahwa G. boninense dapat menyerang Acacia mangium. Berdasarkan pengamatan, jamur ini juga dapat tumbuh pada tunggul tanaman karet dan kakao.

    Penyakit busuk pangkal batang terutama menyebar melalui kontak akar dari tanaman sehat dengan sumber inokulum yang dapat berupa akar atau batang sakit. Selain batang kelapa sawit, akar yang terinfeksi merupakan inokulum utama penyakit Ganoderma pada kelapa sawit (Hasan, 2005). Mekanisme ini didukung oleh pola persebaran penyakit yang mengelompok. Tanaman sakit biasanya dikelilingi oleh tanaman sakit dengan gejala lebih ringan. Banyak sekali kelapa sawit yang mati akibat busuk pangkal batang ketika sistem under planting digunakan. Di sisi lain, basidiospora juga telah dinyatakan memainkan peranan penting dalam menyebarkan penyakit (Sanderson et al., 2000; Pilotti et al., 2003; Sanderson, 2005). Basidiospora tidak selalu membentuk miselium sekunder dan tubuh buah karena memerlukan tipe perkawinan yang sama.                 Percobaan kesesuaian vetetatif dan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat menunjukkan bahwa Ganoderma pada area tertentu memiliki perbedaan tipe perkawinan (Pilotti et al., 2003). Begitu juga dengan agen pembeda molekuler (PCR). Jika disebabkan oleh kontak akar, Ganoderma yang tumbuh pada tanaman yang berdekatan seharusnya memiliki tipe yang sama. Basidiospora dibebaskan dan menyebar secara besar-besaran pada pukul 22.00-06.00, dan lebih sedikit pada pukul 12.00-16.00. Pemencaran ini juga dibantu oleh kumbang Oryctes rhinoceros yang larvanya umum ditemukan pada batang kelapa sawit yang busuk. S. nigrescens memainkan peranan paling penting dalam membantu penyebarannya di Indonesia.

    Perkebunan yang banyak tunggul tanaman karet, kelapa sawit, kakao atau tanaman hutan lainnya rawan terhadap penyakit ini. Tunggul dapat menjadi sumber inokulum Ganoderma yang potensial. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memindahkan tunggul seluruhnya pada saat melakukan tanam ulang. Lahan budidaya sebelum tanam ulang juga mempengaruhi penyakit ini. Semakin tua tanaman, semakin besar kerusakan yang disebabkan oleh penyakit ini. Kerugian yang meningkat berhubungan dengan peningkatan siklus penanaman di perkebunan, yang menunjukkan bahwa substrat semakin melimpah atau populasi inokulum semakin banyak. Lokasi perkebunan tidak terlalu penting karena penyakit ini dapat ditemukan pada daerah pesisir dan pedalaman. Ganoderma  dapat menyerang tanaman di seluruh tipe tanah seperti podsolik, hidromorfik, alluvial, dan gambut. Luka dapat disebabkan oleh beberapa faktor biologi seperti gigitan tikus, tupai, babi hutan dan serangga. Faktor kedua adalah luka mekanik yang disebabkan oleh parang, cangkul atau alat berat.

    Tindakan Pengendalian

    1. Teknik Budidaya dan Mekanis

    Untuk menurunkan serangan Ganoderma, pangkal batang kelapa sawit perlu ditimbun dengan tanah. Hal ini untuk mencegah infestasi basidiospora ke batang kelapa sawit. Penggalian tanah disekeliling tanaman terinfeksi dapat megurangi terjadinya kontak akar antara tanaman sakit dengan tanaman sehat. Penimbunan dapat memperpanjang usia produksi sampai lebih dari 2 tahun (Ho dan Hashim, 1997). Pendekatan ini dapat menemui kegagalan dikarenakan letak akar terinfeksi tidak diketahui. Pengurangan jumlah sumber inokulum di perkebunan dilakukan dengan mengoleksi dan membakar tubuh buah Ganoderma. Sebelum penanaman tanaman baru, batang kelapa sawit lama dihancurkan secara mekanis ataupun secara kimiawi (Chung et al., 1991).

    2. Pengendalian Kimiawi

    Pengendalian kimiawi telah dilakukan di perkebunan kelapa sawit dengan metode adsorpsi atau penyiraman tanah. Berdasarkan hasil di laboratorium, hampi semua fungisida dapat menekan G. boninense, tetapi tidak pada aplikasi lapangan. Fungisida golongan triazole yang meliputi triadimenol, triadimefon dan tridemorph efektif dalam menekan pertumbuhan miselia G. boninense pada konsentrasi 5, 10 dan 25 g/ml. Fungisida hexaconazol dengan aplikasi bertekanan tinggi tidak dapat mengendalikan pertumbuhan Ganoderma. Hasil pemeriksaan membuktikan bahwa fungisida hanya efektif untuk menunda serangan Ganoderma, tetapi kemampuannya untuk mengatasi permasalahan penyakit ini di perkebunan kelapa sawit masih harus diteliti.

    3. Pengendalian Hayati

    Turner (1981) menyatakan bahwa Trichoderma sp., Pennicilium sp., dan Gliocladium sp. bersifat antagonis terhadap Ganoderma dan memiliki potensi untuk dijadikan sebagai agen pengendali hayati. Keefektifan Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dalam menekan pertumbuhan beberapa penyakit tanaman telah dilaporkan, terutama untuk patogen tular tanah. Trichoderma spp. telah banyak digunakan sebagai agen pengendali hayati untuk penyakit layu Fusarium oxysporum pada tomat, melon dan kapas. Selain itu juga digunakan untuk mengendalikan Rhizoctonia solani, Phytium ultimum, Sclerotium rolfsii, Verticillium dahlia, Altenaria, dan Armillaria mellea. Gliocladium sp. sebagai agen pengendali hayati telah digunakan untuk menekan pertumbuhan R. solani, Sclerotinia sclerotiorum, dan S. rolfsii (Campbell, 1989; Papavizas, 1992).

    Trichoderma spp. dan Gliocladium spp. diuji secara in-vitro dan in-vivo pada batang kelapa sawit untuk menekan pertumbuhan G. boninense. Kedua agen hayati memiliki potensi yang bagus dalam pengendalian G. boninense (Abadi, 1987; Dharmaputra 1989; Hadiwiyoni et al., 1997; Abdullah dan Ilias, 2004). Di Indonesia, kelapa sawit memiliki kadar oksigen yang rendah pada akar yang menyebabkan penggunaan Trichoderma menjadi kurang efektif (Widyastuti, 2006). Meskipun demikian, Soepena et al. (2000) berhasil memformulasikan fungisida hayati menggunakan Trichoderma koningii untuk mengendalikan BSR pada kelapa sawit. Akhir-akhir ini, Trichoderma telah digunakan untuk mengendalikan Ganoderma di lapangan walaupun hasilnya belum konsisten (Susanto et al., 2005).

    Pengendalian Penyakit Terpadu

    Sistem lubang dalam lubang (sistem menggali lubang di dalam lubang [panjang 3.0m x lebar 3.0m x dalam 0.8m] dengan lubang tanam standard [0.6m x 0.6m x 0.6m] didalamnya (Gambar 10)) ditambah aplikasi Trichoderma spp. sebagai agen pengendali hayati (400g per lubang) dan aplikasi tandan kosong (400kg per lubang per tahun) dapat digunakan sebagai tindakan pengendalian untuk mengurangi tingkat infeksi Ganoderma (Susanto, 2002). Hal ini dikarenakan sumber inokulum berupa akar sakit telah dipindahkan karena pada dasarnya akar tanaman kelapa sawit hanya tumbuh sampai kedalaman 80cm, dan sisa dari penyakit BSR pada lubang tanam akan dihancurkan oleh agen pengendali hayati Trichoderma spp. Sistem ini dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kontak akar. Bagaimanapun juga, sumber infeksi potensial masih dapat ditemukan dari tanaman hidup yang berupa jaringan akar, bonggol dan batang (Flood et al., 2000).

    Penanaman ulang dengan sistem lubang dalam lubang bertujuan untuk meningkatkan hasil kelapa sawit di tanah mineral yang kurang nutrisi dan bercurah hujan rendah atau karena lahan tersebut telah terexploitasi. Martoyo et al. (1996) melaporkan bahwa penggunaan sistem ini mampu memberikan peningkatan produktivitas yang nyata.

    Insiden penyakit BSR pada sistem lubang dalam lubang lebih rendah (Tabel 3) dibandingkan sistem tanam dengan lubang standard (0.73%, 2003; 0.73%, 2004; dan 1.37%, 2005) pada usia tanaman 10 tahun. Pada pengamatan tahun 2003, insiden penyakit BSR mencapai 0.29%. Pengamatan di tahun 2004 dan 2005 juga menunjukkan nilai yang sama dengan pengamatan di tahun 2003. Insiden penyakit mencapai 0.29% dan 0.86% berturut-turut (Susanto et al., 2006). Di lokasi penanaman lain juga menunjukkan hasil yang sama (Prasetyo et al., 2008).

    Sumber : Klinik Sawit 

    Kunjungi juga blog kami khusus tentang kelapa sawit di :
    http://tehnikbudidayakelapasawit.blogspot.com/

    Sabtu, 10 September 2011

    Pupuk Organik

    Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan  sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya.  Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota  (sampah).

    Sejarah penggunaan pupuk pada dasarnya merupakan bagian daripada sejarah pertanian. Penggunaan pupuk diperkirakan sudah dimulai sejak permulaan manusia mengenal bercocok tanam, yaitu sekitar 5.000 tahun yang lalu.  Bentuk primitif dari penggunaan pupuk dalam memperbaiki kesuburan tanah dimulai dari kebudayaan tua manusia di daerah aliran sungai-sungai Nil, Euphrat, Indus, Cina, dan Amerika Latin. Lahan-lahan pertanian yang terletak di sekitar aliran-aliran sungai tersebut sangat subur karena menerima endapan lumpur yang kaya hara melalui banjir yang terjadi setiap tahun. Di Indonesia, pupuk organik sudah lama dikenal para petani. Penduduk Indonesia sudah mengenal pupuk organik sebelum diterapkannya revolusi hijau di Indonesia. Setelah revolusi hijau, kebanyakan petani lebih suka menggunakan pupuk buatan karena praktis menggunakannya, jumlahnya jauh lebih sedikit dari pupuk organik, harganyapun relatif murah, dan mudah diperoleh. Kebanyakan petani sudah sangat tergantung pada pupuk buatan, sehingga dapat berdampak negatif terhadap perkembangan produksi pertanian.  Tumbuhnya kesadaran para petani akan dampak negatif penggunaan pupuk buatan dan sarana pertanian modern lainnya terhadap lingkungan telah membuat mereka beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik.

    Jenis Pupuk Organik

    1. Pupuk Kandang

    Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Hewan yang kotorannya sering digunakan untuk pupuk kandang adalah hewan yang bisa dipelihara oleh masyarakat, seperti kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam.. Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga bisa berupa cair yang berasal dari air kencing (urine) hewan.  Pupuk kandang mengandung unsur hara makro dan mikro.  Pupuk kandang padat (makro) banyak mengandung unsur fosfor, nitrogen, dan kalium. Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang di antaranya kalsium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum.  Kandungan nitrogen dalam urine hewan ternak tiga kali lebih besar dibandingkan dengan kandungan nitrogen dalam kotoran padat.  Pupuk kandang terdiri dari dua bagian, yaitu:
    1. Pupuk dingin adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan secara perlahan oleh mikroorganime sehingga tidak menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran sapi, kerbau, dan babi.   
    2. Pupuk panas adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan mikroorganisme secara cepat sehingga menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran kambing, kuda, dan ayam. 
    Pupuk kandang bermanfaat untuk menyediakan unsur hara makro dan mikro dan mempunyai daya ikat ion yang tinggi sehingga akan mengefektifkan bahan bahan anorganik di dalam tanah, termasuk pupuk anorganik. Selain itu, pupuk kandang bisa memperbaiki struktur tanah, sehingga pertumbuhan tanaman bia optomal.Pupuk kandang yang telah siap diaplikasikan memiliki ciri dingin, remah, wujud aslinya tidak tampak, dan baunya telah berkurang. Jika belum memiliki ciri-ciri tersebut, pupuk kandang belum siap digunakan.  Penggunaan pupuk yang belum matang akan menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan bisa mematikan tanaman. Penggunaan pupuk kandang yang baik adalah dengan cara dibenamkan, sehingga penguapan unsur hara akibat prose kimia dalam tanah dapat dikurangi. Penggunaan pupuk kandang yang berbentuk cair paling bauk dilakukan setelah tanaman tumbuh, sehingga unsur hara yang terdapat dalam pupuk kandang cair ini akan cepat diserap oleh tanaman

    2. Pupuk hijau
     
    Pupuk hijau adalah pupuk organik yang berasal dari tanaman atau berupa sisa panen. Bahan tanaman ini dapat dibenamkan pada waktu masih hijau atau setelah dikomposkan. Sumber pupuk hijau dapat berupa sisa-sisa tanaman (sisa panen) atau tanaman yang ditanam secara khusus sebagai penghasil pupuk hijau, seperti sisa�sisa tanaman, kacang-kacangan, dan tanaman paku air (Azolla). Jenis tanaman yang dijadikan sumber pupuk hijau diutamakan dari jenis legume, karena tanaman ini mengandung hara yang relatif tinggi, terutama nitrogen dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Tanaman legume juga relatif mudah terdekomposisi sehingga penyediaan haranya menjadi lebih cepat. Pupuk hijau bermanfaat untuk meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara di dalam tanah, sehingga terjadi perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, yang selanjutnya berdampak pada peningkatan produktivitas tanah dan ketahanan tanah terhadap erosi. Pupuk hijau digunakan dalam:
    1. Penggunaan tanaman pagar, yaitu dengan mengembangkan sistem pertanaman lorong, dimana tanaman pupuk hijau ditanam sebagai tanaman pagar berseling dengan tanaman utama.
    2. Penggunaan tanaman penutup tanah, yaitu dengan mengembangkan tanaman yang ditanam sendiri, pada saat tanah tidak ditanami tanaman utama atau tanaman yang ditanam bersamaan dengan tanaman pokok bila tanaman pokok berupa tanaman tahunan.
    3. Kompos
     
    Kompos merupakan sisa bahan organik yang berasal dari tanaman, hewan, dan limbah organik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi. Jenis tanaman yang sering digunakan untuk kompos di antaranya jerami, sekam padi, tanaman pisang, gulma, sayuran yang busuk, sisa tanaman jagung, dan sabut kelapa. Bahan dari ternak yang sering digunakan untuk kompos di antaranya kotoran ternak, urine, pakan ternak yang terbuang, dan cairan biogas. Tanaman air yang sering digunakan untuk kompos di antaranya ganggang biru, gulma air, eceng gondok, dan azola. Beberapa kegunaan kompos adalah:
    1. Memperbaiki struktur tanah.
    2. Memperkuat daya ikat agregat (zat hara) tanah berpasir.
    3. Meningkatkan daya tahan dan daya serap air.
    4. Memperbaiki drainase dan pori - pori dalam tanah.
    5. Menambah dan mengaktifkan unsur hara.
    Kompos digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman. Kompos yang layak digunakan adalah yang sudah matang, ditandai dengan menurunnya temperatur kompos (di bawah 400 c).

    4. Humus
     
    Humus adalah material organik yang berasal dari degradasi ataupun pelapukan daun-daunan dan ranting-ranting tanaman yang membusuk (mengalami dekomposisi) yang akhirnya mengubah humus menjadi (bunga tanah), dan kemudian menjadi tanah. Bahan baku untuk humus adalah dari daun ataupun ranting pohon yang berjatuhan, limbah pertanian dan peternakan, industri makanan, agro industri, kulit kayu, serbuk gergaji (abu kayu), kepingan kayu, endapan kotoran, sampah rumah tangga, dan limbah-limbah padat perkotaan. Humus merupakan sumber makanan bagi tanaman, serta berperan baik bagi pembentukan dan menjaga struktur tanah. Senyawa humus juga berperan dalam pengikatan bahan kimia toksik dalam tanah dan air. Selain itu, humus dapat meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, membantu dalam menahan pupuk anorganik larut-air, mencegah penggerusan tanah, menaikan aerasi tanah, dan juga dapat menaikkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksik. Kandungan utama dari kompos adalah humus. Humus merupakan penentu akhir dari kualitas kesuburan tanah, jadi penggunaan humus sama halnya dengan penggunaan kompos.[sunting] Pupuk organik buatan

    Pupuk organik buatan adalah pupuk organik yang diproduksi di pabrik dengan menggunakan peralatan yang modern. Beberapa manfaat pupuk organik buatan, yaitu:

       1. Meningkatkan kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
       2. Meningkatkan produktivitas tanaman.
       3. Merangsang pertumbuhan akar, batang, dan daun.
       4. Menggemburkan dan menyuburkan tanah.

    Pada umumnya, pupuk organik buatan digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman, sehingga terjadi peningkatan kandungan unsur hara secara efektif dan efisien bagi tanaman yang diberi pupuk organik tersebut.

    Manfaat Pupuk Organik
    Berbagai hasil penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar lahan pertanian intensif menurun produktivitasnya dan telah mengalami degradasi lahan, terutama terkait dengan sangat rendahnya kandungan karbon organik dalam tanah, yaitu 2%.  Padahal untuk memperoleh produktivitas optimal dibutuhkan karbon organik sekitar 2,5%. 
    Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan.  Sumber bahan untuk pupuk organik sangat beranekaragam, dengan karakteristik fisik dan kandungan kimia yang sangat beragam sehingga pengaruh dari penggunaan pupuk organik terhadap lahan dan tanaman dapat bervariasi.  Selain itu, peranannya cukup besar terhadap perbaikan sifat fisika, kimia biologi tanah serta lingkungan.  Pupuk organik yang ditambahkan ke dalam tanah akan mengalami beberapa kali fase perombakan oleh mikroorganisme tanah untuk menjadi humus.  Bahan organik juga berperan sebagai sumber energi dan makanan mikroba tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tersebut dalam penyediaan hara tanaman.  Penambahan bahan organik di samping sebagai sumber hara bagi tanaman, juga sebagai sumber energi dan hara bagi mikroba.  Bahan dasar pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman sedikit mengandung bahan berbahaya. Penggunaan pupuk kandang, limbah industri dan limbah kota sebagai bahan dasar kompos berbahaya karena banyak mengandung logam berat dan asam-asam organik yang dapat mencemari lingkungan. Selama proses pengomposan, beberapa bahan berbahaya ini akan terkonsentrasi dalam produk akhir pupuk.Untuk itu diperlukan seleksi bahan dasar kompos yang mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun (B3).  Pupuk organik dapat berperan sebagai pengikat butiran primer menjadi butir sekunder tanah dalam pembentukan pupuk.  Keadaan ini memengaruhi penyimpanan, penyediaan air, aerasi tanah, dan suhu tanah.  Bahan organik dengan karbon dan nitrogen yang banyak, seperti jerami atau sekam lebih besar pengaruhnya pada perbaikan sifat-sifat fisik tanah dibanding dengan bahan organik yang terdekomposisi seperti kompos.  Pupuk organik memiliki fungsi kimia yang penting seperti:
    1. Penyediaan hara makro (nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur) dan mikro seperti zink, tembaga, kobalt, barium, mangan, dan besi, meskipun jumlahnya relatif sedikit.   
    2. Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah.  
    3. Membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti aluminium, besi, dan mangan.