Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi Pupuk Organik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi Pupuk Organik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

Tanya Jawab Seputar NASA


BEBERAPA PERTANYAAN SEPUTAR PUPUK DAN BUDIDAYA TANAMAN DENGAN PRODUK NASA


  • Dosis , cara dan waktu aplikasi prod NASA untuk sawit yang sudah berbuah?
Dosis ideal 3,5-5 kg POWER NUTRITION per 4-6 bulan sekali , diawal musim hujan dan diakhir musim hujan, dengan cara dikocor, atau ditabur ke piringan (bersama atau tidak dengan NPK).
  • Bisakah memupuk sawit dengan POWER tanpa menggunakan air?
Prinsip memupuk agar bisa diserap oleh tanaman adalah ketersediaan air ditanah (kadar air dalam tanah). Jika tanah cukup lembab , efisiensi pemupukan Makro ataupun dengan POWER akan cukup tinggi, sebaliknya jika kadar air tanah sangat rendah (karena kemarau panjang) sebaiknya pemupukan dengan system pengocoran atau menunda pemupukan dahulu.
  • Kelapa sawit produksi sudah lama tidak dipupuk/ diurus, dosis NASA berapa dan efek berapa lama?
Melihat kasus diatas sebaiknya aplikasi pupuk yang ideal adalah 3,5 ? 5 kg SUPERNASA atau POWERNUTRITION dan dengan NPK atau pupuk makro majemuk dengan dosis rekomendasi dari dinas pertanian setempat dengan cara ditaburkan (jika kadar air tanah cukup) atau dikocorkan jika tanah kering dengan air 5 liter per pokok.Efek pupuk bagi tanaman dipengaruhi antara lain oleh kondisi keasaman tanah, kadar air tanah, genetika tanaman , sejarah pemupukan lahan dll. Untuk pengalaman untuk tanaman sawit pengaruh pemupukan akan tampak antara1-4 bulan tergantung kondisi stress tanaman tersebut.
  • Tanaman sawit kuning di rawa bagaimana aplikasi dengan prod NASA?
Untuk mengatasinya harus bersama2 lakukan teknis sebagai berikut :

Buat parit parit drainase, bersihkan piringan dan rintis, lakukan pemupukan dengan dolomit , lakukan pemupukan 1 bulan setelah aplikasi dolomit dengan pupuk TSP/SP36, atau pupuk NPK/MAKRO, yang dicampur dengan SUPERNASA yang memiliki daya kerja terbaik sebagai pembenah tanah.
  • Bagaimana komposisi produk NASA terbaik untuk tanaman sawit produksi yang ditanam ditanah rawa (rendahan) ?
Gunakan SUPERNASA 2,5 kg dan POWER NUTRITION 2,5 kg per hektar per 6 4-6 bulan sekali.
  • Berapa pengurangan pupuk makro yang ?aman ?jika sudah menggunakan POWER NUTRITION 3,5 ? 5 kg per hektar per 6 bulan?
Pengurangan sebaiknya maksimal 50% dari dosis rekomendasi setempat.
  • Bagaimana aplikasi produk NASA jika disemprotkan pada bibit sawit dan sawit dibawah 2 tahun?
Untuk penyemprotan di pembibitan gunakan POC NASA 4-5 tutup dan HORMONIK 1 tutup per tangki merata . dan untuk tanaman TBM disemprotkan per tangki untuk 10-15 tanaman
  • Berapa persen kenaikan Kelapa Sawit yang menggunakan Produk NASA?
Perlu ditekankan bahwa yang berpengaruh terhadap peningkatan produksi bukan hanya produk NASA saja, namun banyak faktor lain termasuk pupuk Makro, air, genetis tanaman, hama penyakit, iklim,sejarah lahan, dll. Pengalaman berkisar antara 25% bahkan ada yang 150%.
  • Apa keistimewaan produksi sawit yang telah menggunakan produk NASA POWER NUTRITION?
Berbuah lebih kontinyu/ tidak terlalu mengalami trek buah seperti halnya tanaman sawit umumnya, ekstraksi lebih tinggi,berat janjang lebih berat, umur produksi lebih panjang, tanaman lebih cepat dewasa.
  • Untuk pemupukan pohon kelapa kira2 pupuk yang digunakan apa saja ? dan berapa kira2 dosis untuk 1 pohon?
Untuk kelapa yang produksi POWER NUTRITION per pokok 25-30 gram, 2-3 kali pertahun. Dalam setiap aplikasi bisa dicampurkan dengan makro . Dosis Makro berkisar : Urea 0,75-1,5 kg., TSP 0,25-1 kg, KCl 1,25-2 kg, per batang pertahun.
  • Produk NASA yang berguna untuk membusukkan jerami itu apa namanya?
Pembusukan jerami bisa dipercepat dengan penggunaan Supernasa yang dikocorkan dan ditaburkan dolomit di atas tumpukan jerami yang akan dibusukkan. Dan menutup tumpukan tersebut dengan plastik / seresah/daun 2 kelapa
  • Apakah dalam aplikasinya POWER NUTRITION bisa dicampur dengan pupuk makro/pupuk kimia?
POWER NUTRITION / produk pupuk dari NASA mengandung unsur mikro, sedangkan untuk kebutuhan tanaman juga membutuhkan pupuk makro, sehingga dalam aplikasi produk NASA sangat disarankan Bapak masih tetap menggunakan pupuk makro/kimia.
  • Apakah POC + Hormon dapat diaplikasikan pada padi yang sudah lewat masa pemupukan? Apakah masih akan diserap tanaman dan memberikan hasil?
POC NASA dan hormonik maupun jenis pupuk lain akan bisa diserap optimal selagi tanaman tumbuh vegetatif. Saat fase generatif, efek / efisiensi pemupukan sudah sangat rendah, meskipun masih bisa .
  • Apakah sekarang NASA mengeluarkan pupuk organik serbuk yang dalam aplikasinya tidak lagi menggunakan urea?
Produk pupuk terbaru dari NASA adalah GREEN STAR yang organik , dengan kandungan unsur 2 mikro, hormon dan sedikit makro dan berbentuk serbuk, namun di lapangan kami menyarankan tetap menggunakan pupuk makro.
  • Perendaman benih padi dengan POC waktunya berapa lama?
1-2 cc/liter air dan direndam 12 jam.
  • Untuk mengatasi cabe yang kriting bgmn ?
Cabe terkena serangan trips atau apids. Untuk itu perlu dilakukan penyemprotan dengan pentana, 3 hari sekali, dan untuk pencegahan serangan jenis hama yang lain bisa gunakan pestona.
  • Jika NASA dipakai bersamaan dengan PESTONA kapan waktu yang baik untuk penyemprotan ?
Jika NASA dicampurkan dengan PESTONA kami sarankan untuk disemprotkan di pagi hari untuk efektifitas PESTONA dan efisiensi pemupukan.
  • Produk apa saja yang efektif untuk memacu buah naga + aplikasinya?
POWERNUTRITION 20-25 gram per tiang dengan interval 4-6 bulan sekali , dan penggunaan Makro jangan lupa, bisa dikocorkan bersama makro atau sendiri-sendiri
  • Dalam aplikasinya bisakah POC NASA dicampur dengan pupuk biologi agrobost mikroba dan bakteri?
Meskipun bisa, namun untuk mengetahui peranan pupuk NASA akan sulit disitu, karena perbedaan cara kerja dan pengaruh terhadap lingkungan, kami sarankan memisahkan produk NASA dengan produk yang bapak sebut.
  • Untuk penanaman bawang merah pupuk apa saja yang digunakan produk NASA?
Supernasa untuk pupuk dasar, POC NASA dan HORMONIK untuk penyemprotan
  • Unsur Mo itu apa?
Merupakan unsur (Molibden) yang dibutuhkan untuk enzim reduktase NO3?, dan juga dibutuhkan untuk bakteri simbiotik yang menyemat N2 dalam bintil kacang- kacangan.
  • Sawit 2 hektar, umur 3 tahun tidak diurus, pupuk apa yang dipakai dan bagaimana proses aplikasinya?
Pemupukan lengkap, dan berimbang . Gunakan NPK / makro, , Dolomit dan Mikro (SUPERNASA dan POWERNUTRITION). Dosis SUPERNASA 2,5 kg SUPERNASA, dan 2,5 POWERNUTRITION untuk 1 ha tanaman dengan interval 3-6 bulan sekali.
  • Untuk perangsang jamur pakai prodak apa kalau dari NASA ?
POC NASA
  • Pengolahan brambang luas 250 m sprk, NASA, Glio berapa?
NASA 1 botol., SUPERNASA 1 botol, Glio 1 pak
  • Untuk tanaman Hydroponik produk dari NASA yang bisa digunakan apa?
Produk yang digunakan NASA dengan konsentrasi rendah 1 tutup untuk 20- 30 liter air.
  • Bagaimana aplikasi dan apa saja produk NASA yang dipakai untuk lahan yang 1 tahun sekali terkena air asin.
Taburkan merata dolomit 10-20 kg/1000 m? dan kocorkan SUPERNASA 1 kg/1000 meter persegi, dan sebisa mungkin dilakukan pengolahan tanah, agar reaksi pupuk yang kita berikan bisa rata.
  • Pupuk buah (POWER NUTRITION) 500 gr untuk berapa meter ? pak?
Untuk tanaman buah semusim bisa untuk 1000 m?, untuk tanaman buah tahunan bisa dilihat di label produk , karena tergantung ukuran diameter batangnya, namun kira? berkisar 30-50 gram atau (3-5 sdm) per batang.
  • Untuk perkebunan coklat, sebaiknya 1 botol Hormonik untuk berapa pohon, dan bagaimana aplikasinya.
Kebutuhan Hormonik untuk 1 hektar Kakao (asumsi 1 hektar 300-400 pokok) kurang lebih 400 ml (4 ) botol atau 1 botol HORMONIK untuk 75-100 batang kakao dengan cara dikocorkan disekitar pokok (jarak 1-2 meter dr batang)
  • Untuk lahan yang kena limbah bekas pengeboran pertamina sudah 4 kali penanaman gagal terus, daunnya kering dan mati. Kira2 harus bagaimana penanggulangannya dengan produk NASA?
Penggunaan Dolomit diperlukan untuk menetralkan PH, dan pengocoran SUPERNASA dengan dosis 2-3 kali lipat dosis umum/biasanya cukup membantu untuk mengatasi permasalahan tanah-tanah eks tambang.
  • Semprot POC di tanaman bisa tidak dicampur dengan pupuk kimia dalam 1 tangki (15 liter) ?
Bisa hanya perlu diperhatikan pupuk kimianya jangan terlalu banyak (terutama Urea) karena daun bisa terbakar , cukup NPK 1/3-1/2 sendok makan pertangki dan coba dulu dengan takaran yang kurang lebih dengan ukuran tadi .
  • Apakah tanaman cengkeh bisa panen diluar musim kalau pakai POC NASA , SUPERNASA, dan HORMONIK, dan bagaimana caranya?
Untuk tanaman cengkeh membutuhkan syarat terutama iklim selain syarat-syarat lain yang juga tidak kalah penting. Produk NASA mampu mencukupi sebagian syarat-syarat tadi (terutama unsure hara Mikro, Hormon ,dan AS, organic tanah), namun untuk syarat yang lain seperti ketinggian tempat, air, bunsur makro juga harus dicukupi agar cengkeh bisa berbuah diluar musim. Namun setidaknya dengan menggunakan produk NASA mampu meningkatkan produksi cengkeh, sehingga mampu memberikan keuntungan lebih tinggi bagi petani.Caranya dengan menggunakan pupuk NASA dengan rutin, dan penyiraman yang cukup sehingga faktor intern dalam tanaman itu sendiri tidak menjadi factor penghambat lagi untuk berbuah (bahkan di luar musim) jika syarat yang lain sudah tercukupi.
  • Apakah ada efek negative jika tanaman padi yang berumur 25 hari dikasih dolomite 25 kg, SUPERNASA 2 botol, dan POWERNUTRITION 2 botol , KCl 10 kg pada lahan 2100 meter, karena saat olah lahan tidak pakai.
Bisa saja pak meskipun untuk Dolomit dan SUPERNASA sebaiknya sejak awal olah tanah (karena sifatnya yang lambat tersedia) , sedangkan untuk POWER NUTRITION dan KCL bisa diberikan saat padi sudah mulai muncul bunga (akhir masa pertumbuhan vegetatif)
  • SUPERNASA bisa tidak untuk mempercepat proses pematangan pupuk kandang mentah?mohon dosis dan rekomendasi aplikasinya.
Produk NASA bukan berbasiskan teknologi bakteri sehingga bukan sebagai penghancur pupuk kandang, namun produk NASA (SUPERNASA) bisa berperan sebagai media yang disukai oleh dekomposer, sehingga secara tidak langsung mempercepat pertumbuhannya dan mempercepat proses penghancuran bahan organik, serta menyediakan nutrisi2 yang sudah dalam bentuk siap pakai oleh tanaman. Cara yang bisa dilakukan dengan menaburkan/mengocorkan 5-10 sendok makan secara merata pada tumpukan pupuk kandang/kompos yang akan diperam.
  • Karena saya lihat di VCD kalau sawit bisa dipanen bila sudah berumur 3 tahun. Apakah karet juga sama..bisa disadap sebelum 7 tahun pakai produk NASA?
Prinsipnya tanaman akan berproduksi jika sudah memasuki masa produksi yang umumnya tanaman sawit 30 bulan setelah tanam, dan karet 5 tahun keatas. Penggunaan produk NASA mampu mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga lebih cepat mencapai masa dewasa dan berproduksi. Pengalaman menggunakan produk NASA untuk sawit 30 bulan bisa panen (tanpa mengalami pembuangan buah pasir) dan karet bisa tepat umur 5 tahun (karena diameter batang sudah memenuhi persyaratan)
  • Kakak saya punya sawit umur 8 bulan. Produk NASA apa yang cocok untuk sawit yang berumur 8 bulan?
Pergunakan POC NASA dan HORMONIK (4-5 : 1 tutup per tangki) untuk penyemprotan daun 1-2 bulan sekali, dan SUPERNASA 3,5 kg/hektar per 6 bulan bisa dikocorkan atau ditaburkan bersama NPK.
  • Kalau POWER dicairkan apa bisa disemprotkan pada tanaman coklat pak?
Untuk menyemprot lewat daun kita sudah ada POC NASA dan HORMONIK, meskipun POWER bisa juga disemprotkan dengan konsentrasi rendah, namun untuk ketepatan sasaran dan cara kerjanya kami sarankan kocor atau tabur saja ke tanah.
  • SUPERNASA, POC NASA ,HORM, AERO dan BVR dicampur dan disemprotkan basah pada tanaman coklat apa bisa pak? Mohon keterangan. Tks
Semua bisa dicampur kecuali jika bertemu antara BVR dengan AERO. Karena BVR berbahan makhluk hidup tidak boleh dicampur dengan AERO.
  • Mohon informasi cara penggunaan POWER NUTRITION terhadap tanaman padi sawah tks.
Penggunaan POWER NUTRITION untuk padi sawah sebaiknya dilakukan ketika tanaman padi sudah berusia 40 hari, dengan mencampur dan menaburkan POWER dengan KCl ke lahan , yaitu saat pemupukan KCl akhir.
  • Sawah yang kurang sinar matahari / pinggir hutan hasilnya kurang baik. Bagaimana dengan penggunaan pupuk NASA?
Untuk mendapat hasil produksi yang optimal, tanaman membutuhkan syarat-syarat tumbuh antara lain sinar matahari, air, pupuk (NPK atau NASA) dll. Sehingga jika salah satu syarat tidak terpenuhi tanaman tidak akan menghasilkan sesuai dengan potensinya, termasuk dalam hal ini sinar matahari sangat utama bagi tanaman yang berhijau daun seperti padi.
  • Semangat pagi Pak! Untuk sawit 2 hektar, umur 16 tahun, pemupukan yang efektif untuk POC NASA dan HORMONIK, SUPERNASA bagaimana?
POC NASA, HORMONIK, dan SUPERNASA bisa dikocorkan ke tanaman dengan dosis 2 botol POC, 1 -2 botol HORMONIK, dan 2 botol SUPERNASA per 2 bulan. Namun sebenarnya kita ada produk yang lebih praktis yaitu dengan POWERNUTRITION bisa ditaburkan / dikocorkan bersama atau tanpa NPK , dengan kebutuhan untuk umur 16 tahun 5 kg/ ha/ 4-6 bulan sekali.
  • Apa bisa hanya menggunakan SUPERNASA untuk tanah yang sedikit mengandung pasir tuk tanaman cabai? Berapa dosisnya untuk 1000 m2?
Sebaiknya bukan hanya SUPERNASA saja tetapi juga menggunakan pupuk Makro. Karena kebutuhan unsur hara tanaman meliputi Makro, Mikro dan juga hormon. Kebutuhan SUPERNASA untuk tanah pasir 0,5-1 kg / 1000 m.
  • Bagaimana kalau POC NASA atau HORMONIK untuk manusia berbahaya atau tidak?
Meskipun bisa dikonsumsi manusia (terbukti di ternak dan ikan tidak bermasalah) karena telah melewati tahapan proses piruvatisasi tingkat III , namun tidak disarankan untuk manusia karena asal bahan dan proses pembuatannya tidak layak untuk manusia.
  • Dalam ketinggian 2500 m dpl, masa panen cabe lebih lama yaitu panen perdana 4 bulan. Kalau dipacu dengan HORMONIK atau POWER NUTRITION bagaimana?
Pertumbuhan dan produksi optimal suatu tanaman budidaya dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain pupuk,hormon, air, cahaya, genetis dll. Penggunaan pupuk apapun tidak akan berpengaruh signifikan jika syarat-syarat tadi tidak tercukupi.Namun jika syarat-syarat lain tercukupi misalnya pemilihan bibit yang tahan ketinggian dan suhu rendah, tyahan penyakit maka penggunaan produk NASA akan menunjukkan hasil yang optimal pada cabe bapak.
  • Lebih bagus manakah pemberian pupuk ZA dengan pemberian Dolomit untuk pertumbuhan tanaman?
Pupuk ZA dan Dolomit sama sama merupakan pupuk Makro, namun berbeda kandungan unsur dan cara kerja, sehingga tidak bisa diperbandingkan.
  • Apakah kalau kita memakai pupuk NPK ditambah pupuk ZA kebutuhan tanaman dari unsur hara Ca, Mg sudah tercukupi tanpa pemberian dolomit atau kaptan ?
Tergantung dari jumlah dan keberadaan unsur tersebut di tanah, dan untuk ZA bukan pupuk yang mengandung Ca dan Mg
  • Kebun karet per hektarnya perlu berapa macam produk NASA? Per pohon berapa takarannya?
Untuk karet yang sudah produksi gunakan 5 kg SUPERNASA per hektar per 4-6 bulan, atau kisaran 30-35 gram per pokok.
  • Untuk pemupukan rabuk kandang sebaiknya dicampur apa ya..pada tanaman bawang merah dan dilakukan pada waktu bawang merah umur berapa?
Glio 1 pak yang dicampur rata dengan pupuk kandang 25-30 kg dan diperam

  • Pak untuk mendapat hasil sampai kira-kira 15 ton, pupuk NASA yang digunakan per hektar biasanya berapa? Terus jenisnya apa saja?
    Produk NASA yang bisa digunakan antara lain SUPERNASA 5 kg, POWER NUTRITION 5 kg, POC NASA 5-7 liter, dan HORMONIK 1 liter, dan penggunaan NPK yang sesuai dengan standar rekomendasi dinas pertanian setempat. Namun perlu diperhatikan bahwa syarat lain selain pupuk masih sangat banyak misal air, jenis bibit, ketinggian tempat, panjang penyinaran, hama penyakit dll, sehingga pengalaman produk NASA yang bisa dipergunakan bisa menghasilkan hasil tinggi adalah juga karena faktoir lainnya mendukung.
    • Kami punya mangga dan sudah 2x berbunga, tetapi setiap berbunga, selalu rontok, tidak pernah menjadi buah..kira-kira apa penyebabnya dan bagaimana solusinya ?
    Rontoknya bunga / buah pada mangga bisa karena kurang hormon, kurang unsur kalium , kekeringan , atau hama penyakit. Gunakan POWER NUTRITION rutin 2-3 sdm + NPK 2-3 sdm per aplikasi, 1-2 bulan danjangan sampai kekeringan, dan pencegahan hama penyakit terutama penggerekbatang dan buah dengan BVR.
    • Bagaimana aplikasi GREEN STAR?
    Sama dengan penggunaan POC NASA dan HORMONIK yaitu 1 sacchet GREEN STAR dituang ke tangki, masukkan air 14-15 liet dan semprotkan untuk daun tanaman pada pagi hari. Kebutuhan untuk luasan 1000 m? (tanaman semusim) sekali semprot 3 sachet atau 1 pack.
    • Untuk pohon albasia yang tumbuhnya lambat (kerdil) sebaiknya pakai pupuk apa dan bagaimana caranya, berapa ukurannya?
    Tanaman albasia kerdil bisa juga karena bibitnya yang kurang bagus, media di bawah ada terhambat batu, ataupun terjadi hambatan penyerapan unsur hara / pupuk yang diberikan. Untuk sebab yang ketiga , bisa bapak lakukan pemupukan dengan SUPERNASA 1 sdm + NPK 1 sdm + POC NASA dan Hormonik masing 2 1 tutup per 5 liter air. Kocorkan 0,5-1 liter ke bagian bawah tanaman (piringan 1 bulan sekali) , dan usahakan tanaman jangan kekeringan agar pupuk dapat terserap.
    • Pestona, Vireksi, NASA,HORMONIK, POWER , SUPERNASA , dengan dosis kecil dalam botol dicampur untuk semprot bawang merah bagaimana?
    VIREKSI (karena berbahan dasar Virus) tidak bisa dicampur PESTONA atau pestisida lain, namun bisa dicampur sengan produk pupuk diatas. Silahkan pilih salah satu menunda penyemprotan VIREKSI nya atau PESTONAnya
    • Bagaimana cara pemupukan mangga yang udah berumur 7 tahun tidak dipelihara, supaya buahnya banyak?
    Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah memangkas daun (pangkas bentuk pohon) agar bisa berbentuk baik dan bercabang produksi lebih banyak. Kedua lakukan pemupukan dengan Dolomit 0,25 kg bisa dengan cara dikocorkan atau ditaburkan di piringan. Kemudian setelah 15 hari bisa kita pupuk dengan NPK 0,25 kg + produk NASA , kami sarankan dengan POWER NUTRITION 3 sdm . Kemudian penyiraman yang cukup agar tanaman bisa menyerap pupuk yang kita berikan. Ulangi lagi 2 bulan kedepan (tanpa dolomit) , dengan tercukupinya unsur hara, hormon dan air, semoga pohon buah bapak bisa cepat berbuah
    • Pestisida kimia (DECIS/MIDOR) apa bisa campurkan di tangki bersama POC NASA dan HORMONIK untuk disemprotkan? Aku pingin bertani cara NASA . apa ada buku panduannya?
    Pestisida bisa dicampur dengan produk pupuk dari NASA , namun aplikasi dalam penyemprotan tetap kami sarankan di pagi hari , berakhir sebelum jam 10 karena stomata akan tertutup jika cuaca panas. Untuk buku panduan dari NASA sudah lengkap baik teknis budidaya, hama dan penyakit, peternakan/ perikanan dan kesehatan manusia. Silahkan bapak beli di stokist terdekat.
    • Untuk penyemprotan padi dengan POWER NUTRITION dan HORMONIK yang bagus waktu pagi apa sore?
    POWER NUTRITION sebaiknya untuk ditaburkan bukan disemprotkan, namun jika disemprotkan dengan konsentrasi rendah bisa juga. Sebaiknya penyemprotan dilakukan pagi dengan penjelasan sama dengan pertanyaan sebelum ini.
    • Padiku umur 40 hari, apakah habis menyemprot dengan pestisida padiku boleh disemprot dengan NASA - HORMONIK, atau selang berapa hari sesudahnya?
    Tidak ada keharusan untuk menunda penyemprotan, karena produk yang bapak akan aplikasikan adalah pupuk. Lain halnya jika setelah pestisida bapak menyemprot dengan BVR.. ini akan mengurangi efektifitas penyemprotan

    Sabtu, 10 September 2011

    Pupuk Organik

    Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan  sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya.  Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota  (sampah).

    Sejarah penggunaan pupuk pada dasarnya merupakan bagian daripada sejarah pertanian. Penggunaan pupuk diperkirakan sudah dimulai sejak permulaan manusia mengenal bercocok tanam, yaitu sekitar 5.000 tahun yang lalu.  Bentuk primitif dari penggunaan pupuk dalam memperbaiki kesuburan tanah dimulai dari kebudayaan tua manusia di daerah aliran sungai-sungai Nil, Euphrat, Indus, Cina, dan Amerika Latin. Lahan-lahan pertanian yang terletak di sekitar aliran-aliran sungai tersebut sangat subur karena menerima endapan lumpur yang kaya hara melalui banjir yang terjadi setiap tahun. Di Indonesia, pupuk organik sudah lama dikenal para petani. Penduduk Indonesia sudah mengenal pupuk organik sebelum diterapkannya revolusi hijau di Indonesia. Setelah revolusi hijau, kebanyakan petani lebih suka menggunakan pupuk buatan karena praktis menggunakannya, jumlahnya jauh lebih sedikit dari pupuk organik, harganyapun relatif murah, dan mudah diperoleh. Kebanyakan petani sudah sangat tergantung pada pupuk buatan, sehingga dapat berdampak negatif terhadap perkembangan produksi pertanian.  Tumbuhnya kesadaran para petani akan dampak negatif penggunaan pupuk buatan dan sarana pertanian modern lainnya terhadap lingkungan telah membuat mereka beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik.

    Jenis Pupuk Organik

    1. Pupuk Kandang

    Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Hewan yang kotorannya sering digunakan untuk pupuk kandang adalah hewan yang bisa dipelihara oleh masyarakat, seperti kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam.. Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga bisa berupa cair yang berasal dari air kencing (urine) hewan.  Pupuk kandang mengandung unsur hara makro dan mikro.  Pupuk kandang padat (makro) banyak mengandung unsur fosfor, nitrogen, dan kalium. Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang di antaranya kalsium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum.  Kandungan nitrogen dalam urine hewan ternak tiga kali lebih besar dibandingkan dengan kandungan nitrogen dalam kotoran padat.  Pupuk kandang terdiri dari dua bagian, yaitu:
    1. Pupuk dingin adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan secara perlahan oleh mikroorganime sehingga tidak menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran sapi, kerbau, dan babi.   
    2. Pupuk panas adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan mikroorganisme secara cepat sehingga menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran kambing, kuda, dan ayam. 
    Pupuk kandang bermanfaat untuk menyediakan unsur hara makro dan mikro dan mempunyai daya ikat ion yang tinggi sehingga akan mengefektifkan bahan bahan anorganik di dalam tanah, termasuk pupuk anorganik. Selain itu, pupuk kandang bisa memperbaiki struktur tanah, sehingga pertumbuhan tanaman bia optomal.Pupuk kandang yang telah siap diaplikasikan memiliki ciri dingin, remah, wujud aslinya tidak tampak, dan baunya telah berkurang. Jika belum memiliki ciri-ciri tersebut, pupuk kandang belum siap digunakan.  Penggunaan pupuk yang belum matang akan menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan bisa mematikan tanaman. Penggunaan pupuk kandang yang baik adalah dengan cara dibenamkan, sehingga penguapan unsur hara akibat prose kimia dalam tanah dapat dikurangi. Penggunaan pupuk kandang yang berbentuk cair paling bauk dilakukan setelah tanaman tumbuh, sehingga unsur hara yang terdapat dalam pupuk kandang cair ini akan cepat diserap oleh tanaman

    2. Pupuk hijau
     
    Pupuk hijau adalah pupuk organik yang berasal dari tanaman atau berupa sisa panen. Bahan tanaman ini dapat dibenamkan pada waktu masih hijau atau setelah dikomposkan. Sumber pupuk hijau dapat berupa sisa-sisa tanaman (sisa panen) atau tanaman yang ditanam secara khusus sebagai penghasil pupuk hijau, seperti sisa�sisa tanaman, kacang-kacangan, dan tanaman paku air (Azolla). Jenis tanaman yang dijadikan sumber pupuk hijau diutamakan dari jenis legume, karena tanaman ini mengandung hara yang relatif tinggi, terutama nitrogen dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Tanaman legume juga relatif mudah terdekomposisi sehingga penyediaan haranya menjadi lebih cepat. Pupuk hijau bermanfaat untuk meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara di dalam tanah, sehingga terjadi perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, yang selanjutnya berdampak pada peningkatan produktivitas tanah dan ketahanan tanah terhadap erosi. Pupuk hijau digunakan dalam:
    1. Penggunaan tanaman pagar, yaitu dengan mengembangkan sistem pertanaman lorong, dimana tanaman pupuk hijau ditanam sebagai tanaman pagar berseling dengan tanaman utama.
    2. Penggunaan tanaman penutup tanah, yaitu dengan mengembangkan tanaman yang ditanam sendiri, pada saat tanah tidak ditanami tanaman utama atau tanaman yang ditanam bersamaan dengan tanaman pokok bila tanaman pokok berupa tanaman tahunan.
    3. Kompos
     
    Kompos merupakan sisa bahan organik yang berasal dari tanaman, hewan, dan limbah organik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi. Jenis tanaman yang sering digunakan untuk kompos di antaranya jerami, sekam padi, tanaman pisang, gulma, sayuran yang busuk, sisa tanaman jagung, dan sabut kelapa. Bahan dari ternak yang sering digunakan untuk kompos di antaranya kotoran ternak, urine, pakan ternak yang terbuang, dan cairan biogas. Tanaman air yang sering digunakan untuk kompos di antaranya ganggang biru, gulma air, eceng gondok, dan azola. Beberapa kegunaan kompos adalah:
    1. Memperbaiki struktur tanah.
    2. Memperkuat daya ikat agregat (zat hara) tanah berpasir.
    3. Meningkatkan daya tahan dan daya serap air.
    4. Memperbaiki drainase dan pori - pori dalam tanah.
    5. Menambah dan mengaktifkan unsur hara.
    Kompos digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman. Kompos yang layak digunakan adalah yang sudah matang, ditandai dengan menurunnya temperatur kompos (di bawah 400 c).

    4. Humus
     
    Humus adalah material organik yang berasal dari degradasi ataupun pelapukan daun-daunan dan ranting-ranting tanaman yang membusuk (mengalami dekomposisi) yang akhirnya mengubah humus menjadi (bunga tanah), dan kemudian menjadi tanah. Bahan baku untuk humus adalah dari daun ataupun ranting pohon yang berjatuhan, limbah pertanian dan peternakan, industri makanan, agro industri, kulit kayu, serbuk gergaji (abu kayu), kepingan kayu, endapan kotoran, sampah rumah tangga, dan limbah-limbah padat perkotaan. Humus merupakan sumber makanan bagi tanaman, serta berperan baik bagi pembentukan dan menjaga struktur tanah. Senyawa humus juga berperan dalam pengikatan bahan kimia toksik dalam tanah dan air. Selain itu, humus dapat meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, membantu dalam menahan pupuk anorganik larut-air, mencegah penggerusan tanah, menaikan aerasi tanah, dan juga dapat menaikkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksik. Kandungan utama dari kompos adalah humus. Humus merupakan penentu akhir dari kualitas kesuburan tanah, jadi penggunaan humus sama halnya dengan penggunaan kompos.[sunting] Pupuk organik buatan

    Pupuk organik buatan adalah pupuk organik yang diproduksi di pabrik dengan menggunakan peralatan yang modern. Beberapa manfaat pupuk organik buatan, yaitu:

       1. Meningkatkan kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
       2. Meningkatkan produktivitas tanaman.
       3. Merangsang pertumbuhan akar, batang, dan daun.
       4. Menggemburkan dan menyuburkan tanah.

    Pada umumnya, pupuk organik buatan digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman, sehingga terjadi peningkatan kandungan unsur hara secara efektif dan efisien bagi tanaman yang diberi pupuk organik tersebut.

    Manfaat Pupuk Organik
    Berbagai hasil penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar lahan pertanian intensif menurun produktivitasnya dan telah mengalami degradasi lahan, terutama terkait dengan sangat rendahnya kandungan karbon organik dalam tanah, yaitu 2%.  Padahal untuk memperoleh produktivitas optimal dibutuhkan karbon organik sekitar 2,5%. 
    Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan.  Sumber bahan untuk pupuk organik sangat beranekaragam, dengan karakteristik fisik dan kandungan kimia yang sangat beragam sehingga pengaruh dari penggunaan pupuk organik terhadap lahan dan tanaman dapat bervariasi.  Selain itu, peranannya cukup besar terhadap perbaikan sifat fisika, kimia biologi tanah serta lingkungan.  Pupuk organik yang ditambahkan ke dalam tanah akan mengalami beberapa kali fase perombakan oleh mikroorganisme tanah untuk menjadi humus.  Bahan organik juga berperan sebagai sumber energi dan makanan mikroba tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tersebut dalam penyediaan hara tanaman.  Penambahan bahan organik di samping sebagai sumber hara bagi tanaman, juga sebagai sumber energi dan hara bagi mikroba.  Bahan dasar pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman sedikit mengandung bahan berbahaya. Penggunaan pupuk kandang, limbah industri dan limbah kota sebagai bahan dasar kompos berbahaya karena banyak mengandung logam berat dan asam-asam organik yang dapat mencemari lingkungan. Selama proses pengomposan, beberapa bahan berbahaya ini akan terkonsentrasi dalam produk akhir pupuk.Untuk itu diperlukan seleksi bahan dasar kompos yang mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun (B3).  Pupuk organik dapat berperan sebagai pengikat butiran primer menjadi butir sekunder tanah dalam pembentukan pupuk.  Keadaan ini memengaruhi penyimpanan, penyediaan air, aerasi tanah, dan suhu tanah.  Bahan organik dengan karbon dan nitrogen yang banyak, seperti jerami atau sekam lebih besar pengaruhnya pada perbaikan sifat-sifat fisik tanah dibanding dengan bahan organik yang terdekomposisi seperti kompos.  Pupuk organik memiliki fungsi kimia yang penting seperti:
    1. Penyediaan hara makro (nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur) dan mikro seperti zink, tembaga, kobalt, barium, mangan, dan besi, meskipun jumlahnya relatif sedikit.   
    2. Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah.  
    3. Membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang meracuni tanaman seperti aluminium, besi, dan mangan.

    Kamis, 28 April 2011

    Hama Penyakit Tanaman Cabai: Hama



    Hama penyakit tanaman cabai. Dalam budidaya tanaman cabai rawit, banyak sekali jenis hama penyakit tanaman cabai yang dapat menyerang dan menyebabkan kerusakan. Akibat serangannya, tanaman cabai rawit dapat mati sebelum berproduksi. Maka itu, diperlukan pengamatan yang seksama terhadap tanaman sehingga bila terjadi serangan hama dan penyakit tanaman dapat ditanggulangi dengan cepat.

    Pengendalian hama penyakit tanaman cabai secara umum dilakukan dengan dua cara yaitu pengendalian secara prefentif (pencegahan) dan kuratif (mengobati). Pengendalian hama penyakit tanaman secara kuratif dilakukan dengan pengolahan tanah yang intensif, pengaturan jarak tanam yang tepat, pelaksanaan sitem pengairan yang baik. Penanaman tanaman perangkap dan pergiliran tanaman. Pengendalian secara kuratif adalah mengobati tanaman yang telah terserang hama penyakit tanaman .

    Hama penting yang sering menyerang tanaman cabai diantaranya adalah

    1. Hama tanaman cabai Thrips. 
    Ukuran hama cabai ini sektiar 1 mm.
     
    Gejala serangan yang  ditimbulkan oleh trips adalah daun menggulung (mengeriting)ke atas, daun muda yang terserang bernoda keperak-perakan. Pengendalian hama tanaman cabai dapat dilakukan dengan secara kultur teknis menggunakan mulsa plastik hitam perak, dan mengatur rotasi tanaman. Untuk pengendalian kuratif dapat dilakukan dua cara yaitu secara biologi dengan memanfaatkan musuh alami hama thrips yaitu kumbang Coccinellidae, tungau predator, kepik Anthocoridae dan kumbang Staphulinidae. Musuh alami ini sudah ada dialam sekarang tergantung kita untuk memanfaatkannya. Cara yang kedua adalah dengan penyemprotan pestisida nabati atau kimia. Secara kimiawi, dengan penyemprotan insektisida secara selektif agar tidak membunuh musuh alaminya misalnya dengan Mesurol 50 wp, Pegasus 500 sc atau Perfekthion 400 ec, pada waktu sore hari.


    2. Lalat buah (Dacus ferrugineus)

    Hama tanaman cabai Lalat buah (Dacus ferrugineus). Hama cabai ini berukuran 0,5 cm, berwarna cokelat tua, dan meletakkan telurnya didalam buah cabai. Buah-buah yang terserang akan menjadi bercak-bercak bulat, kemudian membusuk. Serangan hama lalat buah ini buah cabai rusak, busuk dan rontok. Pengendalian dapat dilakukan menggunakan pestisida nabati atau kimia. Secara kimiawi yaitu dengan memasang perangkap beracun seperti metil eugenol (CM-Antraktan) atau protein hydrolisat yang efektif terhadap serangga jantan dan betina.untuk penyemprotan insektisida secara langsung dengan insektisida berbahan aktif niflutrin, profenofos, dan frotiofos. Misalnya Buldok, Lannate, atau Tamaron.


    3. Hama tanaman cabai Tungau kuning (Tetranyhus innabarinus Boisd) dan tungau merah (tetaranychus bimaculatus). Hama cabai ini bersifat pemangsa segala jenis tanaman. Tungau menyerang tanaman cabai dengan cara mengisap cairan sel daun atau pucuk tanaman. Akibat serangan tungau daun berwarna bintik-bintik kuning. Pengendalian tungau dapat dilakukan dengan penyemprotan akarisida omite 57 EC (0,2%) atau mitac 200 EC (0.2%).

    4. Hama tanaman cabai Kutu (Myzus persicae),

    Serangannya hampir sama dengan tungau namun akibat cairan dari daun yang dihisapnya menyebabkan daun melengkung ke atas, keriting dan belang-belang hingga akhirnya dapat menyebabkan kerontokan. Tidak sepeti mite, kutu persik ini memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat karena selain bisa memperbanyak dengan perkawinan biasa, dia juga mampu bertelur tanpa pembuahan. Pengendalian hama aphids secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprot insektisida winder 100ec konsentrasi 0.5 � 1.00 cc/l.

    5. Hama tanaman cabai Ulat grayak (Spodoptera litura).

    Hama ini tak berbeda dengan jenis ulat lain yang juga suka makan daun. Namun keistimewaannya adalah saat memasuki stadia larva, dia termasuk hewan yang sangat rakus. Hanya dalam waktu yang tidak lama, daun-daun cabe bisa rusak olehnya. Ulat yang setelah dewasa berubah menjadi sejenis ngengat ini akan memakan daun-daunan pada masa larva untuk menunjang perkembangan metamorfosis-nya. Ulat grayak tidak hanya menyerang tanaman cabe saja melainkan juga tanaman pisang, tomat, bawang, pepaya, kentang, padi, kacang dan lain-lain. Pengendalian hama cabai ini dapat dilakukan terhadap ngengat dewasa yang hendak meletakkan telurnya pada tanaman inang dengan menyemprotkan insektisida, atau dikendalikan dengan insektisida biologis turex wp konsentrasi 1 � 2 gr/lt.

    Sumber http://www.tanamanbudidaya.com/keyword/hama-penyakit-tanaman-cabai-hama/ 

    Senin, 20 Desember 2010

    MEMBUAT PUPUK KOMPOS DARI KOTORAN SAPI

    Pupuk kompos merupakan dekomposisi bahan � bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bahan dasar pembuatan kompos ini adalah kotoran sapi dan bahan seperti serbuk gergaji atau sekam, jerami padi dll, yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah (misalnya stardec atau bahan sejenis) ditambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos, selain ditambah serbuk gergaji, atau sekam, jerami padi dapat juga ditambahkan abu dan kalsit/kapur. Kotoran sapi dipilih karena selain tersedia banyak di petani/peternak juga memiliki kandungan nitrogen dan potassium, di samping itu kotoran sapi merupakan kotoran ternak yang baik untuk kompos.

    Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi kelangkaan dan naiknya harga pupuk. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk sudah dilakukan petani secara optimal di daerah-daerah sentra produk sayuran. Sayangnya masih ada kotoran ternak tertumpuk di sekitar kandang dan belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber pupuk. Keluhan petani saat terjadi kelangkaan atau mahalnya harga pupuk non organik (kimia) dapat diatasi dengan menggiatkan kembali pembuatan dan pemanfaatan pupuk kompos.

    Proses
    Prinsip yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah proses pengubahan limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktivitas biologis pada kondisi yang terkontrol. 
    Bahan yang diperlukan adalah: 
    1. kotoran sapi : 80 � 83%, 
    2. serbuk gergaji (bisa sekam, jerami padi dll) : 
    3. 5%, bahan pemacu mikroorganisame :
    4. 0.25%, abu sekam : 
    5. 10% dan 
    6. kalsit/kapur : 2%, 
    7. dan juga boleh menggunakan bahan-bahan yang lain asalkan kotoran sapi minimal 40%, serta kotoran ayam 25 %
    Tempat pembuatan adalah sebidang tempat beralas tanah dan dibagi menjadi 4 bagian (lokasi 1, 2, 3, 4) sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan dan tempat tersebut ternaungi agar pupuk tidak terkena sinar matahari dan air hujan secara langsung. Prosesing pembuatannya adalah pertama kotoran sapi (fases dan urine) diambil dari kandang dan ditiriskan selama satu minggu untuk mendapatkan kadar air mencapai �+ 60%, kemudian kotoran sapi yang sudah ditiriskan tersebut dipindahkan ke lokasi 1 tempat pembuatan kompos dan diberi serbuk gergaji atau bahan yang sejenis seperti sekam, jerami padi dll, serta abu, kalsit/kapur dan stardec sesuai dosis, selanjutnya seluruh bahan campuran diaduk secara merata. 
    Setelah satu minggu di lokasi 1, tumpukan dipindahkan ke lokasi 2 dengan cara diaduk/dibalik secara merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu hingga mencapai 70 derajat celcius untuk mematikan pertumbuhan biji gulma sehingga kompos yang dihasilkan dapat bebas dari biji gulma.


    http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/membuat-pupuk-kompos-kotoran-sapi-1225076328.htm

    Kamis, 16 Desember 2010

    MEMBUAT PUPUK & PESTISIDA ORGANIK DARI LIMBAH TAHU


    Kondisi tanah semakin menurun dan rendah kandungan bahan organik (BO) dalam tanah sehingga menurunkan kesuburan tanah dan pada akhirnya akan menurunkan produksi. Di sisi lain makin mahalnya dan langkanya harga pupuk dan pestisida, sehingga banyak petani yang mengeluh dan gundah dengan kondisi demikian.

    Banyak cara telah diupayakan sehingga banyak pupuk organik dan pestisida organik. Guna menekan keperluan pupuk dan pestisida dan menggunakan bahan lokal yang banyak tersedia di sekitar kita, salah satu contohnya adalah menggunakan limbah cair tahu.

    Limbah tahu dapat dipakai sebagai pupuk dan pestisida bahkan fungisida organik dengan bantuan tambahan dari bahan yang lain, antara lain menggunakan bahan empon-empon atau tanaman herba melalui proses fermentasi, sehingga bahan aktif dapat terurai dengan sempurna, sedangkan limbah cair tahu banyak mengandung sisa protein dan asam cuka sehingga mampu mendukung efektifitas fermentasi.

    Adapun teknik pembuatannya sebagai berikut :

    Bahan yang digunakan : 
    1. air limbah tahu 70 liter, 
    2. air kelapa 30 liter, 
    3. alkohol 70% 1 liter, 
    4. temu lawak 4 kg, 
    5. sereh 1 kg, 
    6. dekomposer (EM) 2 liter.
    Cara pembuatannya : 
    Cuci bersih semua tanaman herba lalu lakukan penghancuran dengan pemblenderan atau penggilingan, masukkan dalam air limbah tahu yang sudah dimasukkan dalam drum plastik ukuran 100 liter kemudian tambahkan alkohol dan tambahkan kembali dekompuser (EM), kemudian ditutup dan disimpan selama 10 hari.

    Bila larutan berbau menyengat pertanda bahwa pupuk dan pestisida organik jadi dan bila belum menyengat ada dua kemungkinan reaksi fermentasi belum sempurna atau tidak jadi. Sebagai catatan bahan tersebut di atas tidak menggunakan asam cuka karena limbah tahu sudah mengandung asam cuka (kecutan) dan untuk meningkatkan efektifitas pestisida dan fungisida organik bisa ditambahkan berbagai macam tanaman herba misal kunir, daun mindi, dll.


    Cara penggunaan : 
    1 liter bahan dilarutkan dengan 10 liter air kemudian disemprotkan pada tanaman. Pupuk dan pestisida ini dapat digunakan untuk tanaman padi, jagung, kedelai, buah dan sayuran. Efektifitas telah terbuktikan bahwa tanaman padi yang terserang jamur Spedomonas dapat dikendalikan dengan cairan tersebut dan tanaman menjadi hijau subur. Produk ini telah diproduksi di Probolinggo oleh kelompok tani dan telah diedarkan kepada petani dengan harga Rp. 20. 000,-/liter.

    Silahkan download file pdfnya disini.

    Sumber :
    http://www.deptan.go.id/bpsdm/bbppketindan/index.php/artikel/189--membuat-pupuk-a-pestisida-organik-dari-limbah-tahu

    Jumat, 15 Oktober 2010

    Memperbaiki Lahan Bekas Tambang dengan Mikroorganisme

    Oleh : Dindin H. Mursyidin, S.Si*

    Kecamatan Cempaka merupakan salah satu daerah di Kalimantan Selatan yang sebagian wilayahnya telah rusak akibat penambangan batubara. Berdasarkan survei tim reklamasi Kota Banjarbaru (2001), kerusakan lahan di Kecamatan Cempaka akibat kegiatan penambangan batubara telah mencapai �10 ha. Namun demikian upaya perbaikan lahan (reklamasi) di wilayah tersebut masih minim dilakukan. Kalaupun ada, upaya tersebut masih terbatas pada tahap perencanaan.

    Sebenarnya, upaya perbaikan lahan bekas tambang batubara di Kecamatan Cempaka telah dilakukan masyarakat setempat dan pemerintah kota Banjarbaru, yaitu dengan menanam sejumlah pohon, seperti akasia dan petai. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil yang optimal dalam perbaikan lahan. Hidayati dkk. (1995) melaporkan bahwa untuk membantu keberhasilan reklamasi dengan tanaman, aplikasi mikroorganisme juga perlu diterapkan.
    Tulisan ini akan menelaah tentang aplikasi mikroorganisme, terutama jamur (fungi) dalam perbaikan lahan bekas tambang, khususnya tambang batubara.

    Sekilas tentang Tambang Batubara di Kalimantan Selatan
    Kalimantan Selatan merupakan salah satu wilayah yang kaya akan lahan tambang, salah satunya batubara. Sampai saat ini produksinya dapat mencapai 10% dari produksi total batubara nasional. Batubara sendiri merupakan sumber energi mineral yang dapat diandalkan, karena produksinya relatif besar (? 36 miliyar ton) dengan biaya produksinya relatif rendah disamping mutunya cukup baik. Batubara dapat juga digunakan secara langsung sebagai bahan bakar pada pembangkit listrik tenaga uap, industri semen, ketel uap atau sebagai briket dalam rumah tangga.

    Pada umumnya penambangan batubara di Kalimantan Selatan dilakukan dengan teknik penambangan terbuka (open pit), yaitu dengan membuka lahan (land clearing), mengupas tanah pucuk (stripping top soil), mengupas dan menimbun tanah penutup (over burden stripping), serta membersihkan dan menambang batubara. Sehingga dengan teknik ini, telah menyebabkan kerusakan kondisi fisik, kimia, dan biologis tanah tambang. Sudiana (2002), menyatakan bahwa lahan bekas tambang termasuk kedalam jenis lahan kritis, yaitu suatu lahan yang tidak produktif ditinjau dari penggunaan pertanian. Oleh karena itu kegiatan perbaikan pasca penambangan batubara mutlak diperlukan untuk mengembalikan produktivitas lahan tersebut.

    Bekas Tambang dan Perbaikannya
    Lahan bekas tambang merupakan lahan sisa hasil proses pertambangan baik berupa tambang emas, timah, maupun batubara. Pada lahan pasca tambang biasanya ditemukan lubang-lubang dari hasil penambangan dengan lapisan tanah yang mempunyai komposisi dan warna berbeda. Misalnya, ada lapisan tanah berpasir yang berseling dengan lapisan tanah liat, tanah lempung atau debu. Ada pula lapisan tanah berwarna kelabu pada lapisan bawah, berwarna merah pada bagian tengah dan berwarna kehitam-hitaman pada lapisan atas.

    Degradasi pada lahan bekas tambang meliputi perubahan sifat fisik dan kimia tanah, penurunan drastis jumlah spesies baik flora, fauna serta mikroorganisme tanah, terbentuknya kanopi (area tutupan) yang menyebabkan suatu tanah cepat kering dan terjadinya perubahan mikroorganisme tanah, sehingga lingkungan tumbuh menjadi kurang menyenangkan. Dengan kata lain, bahwa kondisi lahan terdegradasi memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan struktur tanah yang kurang baik.

    Reklamasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki lahan pasca penambangan. Reklamasi adalah kegiatan pengelolaan tanah yang mencakup perbaikan kondisi fisik tanah overburden agar tidak terjadi longsor, pembuatan waduk untuk perbaikan kualitas air masam tambang yang beracun, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan revegetasi. Revegetasi sendiri bertujuan untuk memulihkan kondisi fisik, kimia dan biologis tanah tersebut. Namun upaya perbaikan dengan cara ini masih dirasakan kurang efektif, hal ini karena tanaman secara umum kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan ekstrim, termasuk bekas lahan tambang. Oleh karena itu aplikasi lain untuk memperbaiki lahan bekas tambang perlu dilakukan, salah satunya dengan mikroorganisme.

    Memanfaatkan Mikroorganisme
    Fungi atau jamur merupakan salah satu mikroorganisme yang secara umum mendominasi (hidup) dalam ekosistem tanah. Mikroorganisme ini dicirikan dengan miselium berbenang yang tersusun dari hifa individual. Hifa-hifa tersebut mungkin berinti satu, dua atau banyak, bersekat atau tidak bersekat. Berkembangbiak secara aseksual dengan membentuk spora atau konidia. Secara umum fungi ini diklasifikasikan menjadi Phycomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan fungi Imperfecti.

    Berikut ini adalah contoh beberapa genus fungi yang paling umum dijumpai di dalam tanah, meliputi: Acrostalagmus, Aspergillus, Botrytis, Cephalosporium, Gliocladium, Monilia, Penicillium, Scopulariopsis, Spicaria, Trichoderma, Trichothecium, Verticillum, Alternaria, Cladosporium, Pullularia, Cylindrocarpon, dan Fusarium.

    Aspergillus merupakan genus fungi yang mempunyai sebaran dan keanekaragaman yang luas. Raper dan Fennel (1965) dalam monografinya menyampaikan sedikitnya terdapat 150 spesies Aspergillus yang terbagi kedalam 18 kelompok, dengan sebaran yang luas baik di daerah kutub maupun tropik, atau pada setiap substrat dengan spora berhamburan di udara maupun tanah.

    Saat ini beberapa jenis fungi telah dimanfaatkan untuk mengembalikan kualitas/kesuburan tanah. Hal ini karena secara umum fungi mampu menguraikan bahan organik dan membantu proses mineralisasi di dalam tanah, sehingga mineral yang dilepas akan diambil oleh tanaman. Rao (1994) melaporkan bahwa beberapa genus tertentu seperti Aspergillus, Altenaria, Cladosporium, Dermatium, Cliocladium, Hewlminthosporium, dan Humicoli menghasilkan bahan yang mirip humus dalam tanah dan karenanya penting dalam memelihara bahan organik tanah.

    Beberapa fungi juga mampu membentuk asosiasi ektotropik dalam sistem perakaran pohon-pohon hutan yang dapat membantu memindahkan fosfor dan nitrogen dalam tanah ke dalam tubuh tanaman.Yulinery dkk. (2001), menyarankan bahwa paling tidak tiga kelompok fungi tanah, yaitu Aspergillus, Euphenicillium dan Penicillium disertakan dalam usaha perbaikan lahan, hal ini karena akan membantu mempercepat proses perbaikan lahan tersebut.

    Kesimpulan
    Upaya perbaikan lahan bekas tambang merupakan hal yang sangat mendesak dilakukan. Hal ini karena sistem perbaikan (reklamasi) lahan yang sudah ada masih dilaksanakan secara konvensional, yaitu dengan menanami areal bekas tambang tersebut dengan tumbuhan. Upaya perbaikan dengan cara ini dirasakan kurang efektif, hal ini karena tanaman secara umum kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan ekstrim, termasuk bekas lahan tambang.

    Teknologi alternatif perbaikan lahan bekas tambang menggunakan mikroorganisme terutama jamur (fungi) merupakan hal yang sangat menarik dan penting dilakukan. Hal ini karena jamur memiliki keistimewaan, selain adaptif terhadap berbagai kondisi tanah juga kemampuannya dalam menguraikan bahan organik dan membantu proses mineralisasi di dalam tanah, atau dengan kata lain.***

    *) Dosen Biologi FMIPA UNLAM E-mail : dindinhm@yahoo.co.id
    Dikutip dari klipingtambang.blogspot.com milik Walhi Kalsel

    PT Natural Nusantara melalui produk-produk organik berkualitasnya juga menyediakan konsultasi tentang perbaikan lahan lahan tambang. Silahkan telpon/sms kami untuk pertanyan lebih lanjut.

    Rabu, 13 Oktober 2010

    Cara Pemakaian dan Menghitung Kebutuhan Kompos

    Cara pemakaian kompos, sebaiknya disesuaikan dengan keadaan jenis tanah dan kandungan C organik dalam tanah tersebut, disamping juga harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing jenis tanaman. 
    Tiap-tiap tanaman memerlukan kandungan bahan organik yang berbeda-beda. Tanaman sayuran apabila tidak dipupuk dengan pupuk organik sama sekali pertumbuhannya tidak akan sebaik tanaman yang mendapat pupuk organik.
    Tanaman bunga seperti antara lain Azalea atau Anthurium, pertumbuhannya akan sangat baik pada media yang 100 persen terdiri dari bahan organik. Apabila medianya tercampur dengan tanah, pertumbuhannya kurang optimal.  Beberapa tanaman lainnya akan tumbuh dengan baik apabila kompos ditambah dengan tanah dengan perbandingan 1:1. Disamping itu ada juga tanaman yang menghendaki kompos dicampur dengan tanah dan pasir dengan perbandingan  1 : 1 : 1.

    Sementara itu tiap-tiap jenis tanah memiliki keadaan kesetimbangan kandungan bahan organik sendiri-sendiri. Pada tanah-tanah abu vulkanik (Andisol) seperti tanah di Lembang, kandungan C organik tanah (ideal),  tidak akan sama dengan kandungan C organik tanah (ideal) pada jenis tanah Inseptisol di Banjaran, misalnya.
    Sehingga jumlah pemberian pupuk organik pada tiap tanaman dan pada berbagai jenis tanah tidak akan sama. 
    Untuk menentukan tingkat kandungan C organik dalam tanah, harus dilakukan dengan analisa laboratorium. 
    Untuk mengetahui berapa kebutuhan pupuk C organik, dapat dilakukan dengan cara mempergunakan rumus sbb:

        Kebutuhan Kompos (C organik) = 
    C organik Tanah x 1.724 x 20 cm x 10.000 m2

    C organik tanah = ditentukan berdasarkan hasil analisa tanah di laboratorium 1.724: konstanta 20 cm: kedalaman lapisan olah tanah 10.000 m2: Luas areal
     
    Sebagai ilustrasi, apabila hasil analisa laboratorium tanah diketahui kandungan C organik tanah di suatu tempat adalah 2.56 %, Maka menghitung kandungan C organik tanah dalam lapisan olah (20 cm) seluas 1 ha adalah:

    Kandungan C organik lapisan olah tanah adalah  =  
    2.56 x 1,724 x 20 x 10.000  =  8.800 kg /ha = 8.8 ton / ha

    Sementara itu ada juga yang mengelompokan tingkat kandungan  bahan organik tanah secara umum, seperti dapat dilihat pada tabel berikut:

    Kandungan Organik
    (% Berat Tanah)
    Metoda Welkley - Black
    Tingkat
    Setara Dengan
    Ton / ha
    > 20
    Sangat Tinggi
    > 68.9
    10 � 20
    Tinggi
    34.48 � 68.9
    4 � 10
    Sedang
    13.79 � 34.48
    2 - 4
    Rendah
    4.34 � 13.79
    < 2
    Sangat Rendah
    < 4.34
    Sumber: Metson (1961) dalam Brooker Tropical Soil Manual 1984

    Dengan demikian rekomendasi pemberian pupuk organik dilakukan berdasarkan kekurangan kandungan C organik dalam tanah.  Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan bahwa bila berdasarkan  analisa  laboratorium tanah, kandungan C organik tanah adalah 2.56 % setara dengan 8.8 ton / ha,  maka berdasarkan keadaan tingkat kesuburan C organik tanah, kandungan organik tanah berada pada tingkat rendah.

    Berapa persisnya kebutuhan pupuk Organik, adalah sangat tergantung kepada jenis tanah dan jenis tanaman.  Keadaan ini baru akan diketahui dengan lebih akurat apabila dilakukan pengujian lapangan. Tetapi dengan bantuan panduan tingkat kesuburan tanah pada tabel 5 di atas, dapat diketahui secara umum bahwa untuk mencapai tingkat kesuburan C organik tanah sedang, yaitu 13.79 s/d 34.48 ton / ha, maka diperlukan penambahan pupuk organik sebesar =  (13.79 s/d 34.48 ) � 8.8 ton = 4.99 s/d 25.4 ton /ha.

    Selasa, 12 Oktober 2010

    Kontroversi Seputar Pupuk & Pemupukan Tanaman

    Kontroversi Seputar Pupuk & Pemupukan Tanaman

    Fungsi dan manfaat pupuk telah diketahui orang. Tak sedikit yang hapal fungsi masing-masing unsur hara penyusun pupuk. Nitrogen (N) bermanfaat untuk daun, phospor (P) untuk pembungaan, dan kalium (K) untuk buah. Banyak buku, majalah, dan brosur pertanian yang menjelaskan hal tersebut. Namun demikian jarang yang menjelaskan perihal mekanisme dan proses penyerapan pupuk oleh tanaman. Hal yang terakhir ini akhirnya menimbulkan beberapa kontroversi dalam hal pemupukan. Disisi lain, kontroversi seputar pemupukan justru dimanfaatkan oleh beberapa produsen pupuk untuk menambah nilai jual dan sebagai alat persaingan dagang. Berikut diskusi seputar kontroversi pupuk dan pemupukan, dengan batasan hanya untuk tanaman  hias di pekarangan dan dalam pot. Dari diskusi ini diharapkan kita jangan mudah termakan mitos dan gugon tuhon di seputar pupuk, dan mau membayar lebih untuk sesuatu yang tidak perlu.

    Pupuk Organik dan Pupuk Anorganik (Pupuk Kimia)

    Kelebihan pupuk organik dibanding pupuk kimia mungkin telah banyak diungkapkan dalam banyak tulisan. Pupuk organik lebih mudah diserap tanaman, lebih ramah lingkungan, pupuk organik tidak membahayakan kesehatan, dan lain sebagainya. Mengapa dan benarkah demikian ?

    Faktanya, tanaman tidak dapat membedakan dan tidak bisa memilih unsur hara yang diserap berasal dari pupuk organik atau pupuk kimia. Tanaman menyerap unsur hara (N, P, K, dan sebagainya) melalui mekanisme pertukaran ion, dan dalam bentuk ion-ion anorganik. Agar dapat diserap tanaman, pupuk organik harus melalui serangkaian proses perombakan oleh mikroba dalam tanah menjadi ion-ion anorganik/kimia. Jadi yang diserap tanaman pada akhirnya tetap saja berupa ion-ion anorganik / kimia.

    Konsentrasi kandungan unsur hara pupuk organik jauh di bawah kandungan pupuk kimia. Sekian ton pupuk organik berbanding sekian puluh gram pupuk kimia, untuk ukuran kandungan hara yang sama. Kelebihan sifat pupuk organik ini (meski lebih tepat bila dikatakan kekurangan), diisukan sebagai ramah lingkungan. Pernyataan tersebut baru benar bila penggunaan pupuk kimia tidak sesuai dosis dan berlebihan. Sesuatu yang wajar kiranya, apapun yang berlebihan tentu tidak baik untuk hal apapun.

    Lalu adakah kelebihan pupuk organik dibanding pupuk kimia ? Pupuk organik mempunyai keunggulan dalam hal memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah, sesuatu yang tidak dapat dicapai pupuk kimia. Namun dengan catatan, hanya pada pupuk organik yang masih bersifat padat, berupa kompos atau pupuk kandang asli. Pupuk organik dalam bentuk cair, ekstrak, pupuk daun, dan pelet, tidak akan mempunyai kemampuan memperbaiki struktur tanah. Tapi bagaimana dengan tanaman dalam pot ? Di tengah trend pemakaian media yang bersifat soilless, tentunya kelebihan sifat tersebut di atas menjadi tidak berarti lagi. Mengapa dipilih soilless media ? Mungkin akan kita diskusikan lain kali.

    Kapan sebaiknya menggunakan pupuk organik atau pupuk kimia ? Sepanjang kita bermaksud memberi nutrisi ke tanaman, pakailah pupuk kimia. Mengapa demikian ? Disamping jauh lebih murah, lebih cepat diserap tanaman, juga lebih terkontrol. Di belahan dunia manapun, yang namanya pupuk urea pasti akan sama, mengandung nitogen (dalam bentuk amonium) sebesar 46 %. Sementara untuk pupuk organik, tergantung bahannya dari apa, jenis ternak dan apa yang dimakan ternak penghasil pupuk kandang, dan lain-lain. Lebih sulit diprediksi. Namun bila tujuan utama adalah memperbaiki struktur tanah, pakailah kompos, atau pupuk kandang asli. Jangan terpengaruh dengan iklan pupuk organik dalam bentuk cair, pupuk daun, atau pupuk kandang pelet. Pupuk-pupuk ini setali tiga uang dengan pupuk kimia, namun jauh lebih mahal. Lebih banyak isunya.

    Bila di pasar dijumpai pupuk organik dengan kandungan unsur N,P, dan K masing-masing lebih dari 4 %, yakinlah bahwa pupuk tersebut telah diperkaya dengan pupuk kimia.

    Pupuk Daun dan Pupuk Akar

    Benarkah pupuk daun lebih efektif dan efisien dibanding pupuk akar ? Benarkah penyerapan pupuk melalui daun 10 kali lebih efektip dan efisien dibanding melaui akar ? Benarkah pemberian pupuk melalui daun berarti memberikan hara langsung ke dapur tanaman ? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas digunakan sebagai salah satu alat dagang dan alat penambah nilai jual pupuk daun. Kenyataanya, belum ada penelitian yang independen dan valid yang dapat menjawab seputar pertanyaan tersebut di atas.

    Fakta selama ini yang dapat diterima, selain unsur karbon, hidrogen, dan oksigen, unsur hara seperti N, P, K dan lainnya diperoleh dan diserap tanaman dari dalam tanah melalui akar. Dari sononya akar secara khusus memang dirancang untuk menyerap unsur hara, melalui pertukaran ion.

    Bagaimana dengan daun ? Pada awal pemunculan pupuk daun, dikatakan penyerapan unsur hara dilakukan melalui stomata daun. Tapi hal ini kemudian diralat, karena ternyata stomata hanya bisa dilalui gas. Kemudian berkembang isu lain, penyerapan dilakukan melalui permukaan daun (sel epidermis dan kultikula), yang bentuknya seperti tenunan. Faktanya, kebanyakan permukaan daun tanaman diselimuti oleh lapisan minyak, lilin, dan bahkan ditumbuhi bulu-bulu halus. Keadaan yang tentunya akan menjadi faktor penghambat masuknya unsur hara melalui daun.

    Memang daun, atau bahkan batang tanaman dapat menyerap unsur hara, namun demikian akar tetap saja lebih efektip dan efisien dalam menyerap unsur hara. Dalam beberapa kasus, memang unsur hara seperti K, dan Ca gampang masuk ke jaringan tanaman malalui daun dan bahkan batang tanaman. Tapi bukan berarti semua unsur hara lebih gampang diserap tanaman melalui bagian tanaman di luar akar.

    Kapan pupuk daun dapat digunakan ? Bila penggunaan pupuk akar sulit diaplikasikan, misal pada tanaman epifit, seperti kebanyakan tanaman anggrek. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa pupuk daun sangat populer dan banyak digunakan di kalangan pecinta anggrek. Tanaman yang baru saja mengalami pruning akar, pemindahan pot, atau kondisi-kondisi dimana untuk sementara waktu akar sulit berlaku sebagaimana mestinya, pupuk daun akan sangat membantu dan bermanfaat.

    Fakta lain, pertanian hidroponik lebih dipilih orang tentunya bukan hanya karena alasan menghemat tempat, tapi juga keyakinan pemberian nutrisi tanaman yang lebih terkontrol, efektip, dan efisien melalui akar. Atau mungkin ada ide sistem tanam dalam pot kecil-kecil tetapi hanya diberikan pupuk melalui daun. Dijamin kerugian yang akan dituai.

    Pupuk Slow Release

    Jenis pupuk ini juga merupakan ide dagang yang cemerlang dari produsen pupuk. Dikatakan pupuk slow release merupakan pupuk kimia yang sifatnya mirip dengan pupuk organik. Diserap tanaman sesuai dengan kebutuhan, hingga tidak mencemari lingkungan. Hebat. Sekali lagi hebat. Benarkah demikian ?

    Faktanya, tanaman tidak bisa merasakan kenyang kemudian berhenti makan. Sepanjang banyak tersedia unsur hara, sepanjang itu pula tanaman akan menyerap sebanyak yang tersedia. Fakta ini kemudian melahirkan istilah luxury consumption. Sepanjang tidak mengganggu kestabilan kimia larutan tanah, tanaman akan menyerap unsur hara yang disediakan tanah. Hasilnya dijadikan cadangan makanan dan untuk memperbanyak diri.

    Pupuk slow release dibuat dari pupuk kimia yang dibalut dengan lapisan tertentu yang bersifat permeable. Adanya lapisan tersebut membuat kandungan kimia dilepaskan sedikit demi sedikit sesuai berjalannya waktu. Kalau memang benar pelepasan unsur kimia tersebut sesuai kebutuhan tanaman, tentu dalam label kemasan tidak dicantumkan angka jangka waktu penggunaan 3 bulan atau 6 bulan. Angka-angka tersebut sebenarnya merupakan waktu luruh pupuk. Angka yang menggambarkan jangka waktu pelepasan kandungan pupuk hingga habis kandungan pupuknya.

    Kapan kita perlu menggunakan pupuk slow release ? Jika kita termasuk pecinta tanaman yang malas. Malas menyiram, dan malas bereksperimen. Bukantah salah satu kenikmatan bercocok tanam adalah manakala kita menyirami tanaman kesayangan kita. Atau mungkin kita termasuk orang yang lebih cocok bertanam tanaman plastik.

    Artikel ini ditulis khusus untuk kebonkembang.com
    Oleh Omah Ijo - Jogjakarta
    SPECIALIZES IN ADENIUM HAND POLLINATION SEEDS
    Owner : Thari Widodo

    Minggu, 10 Oktober 2010

    Standarisasi Pembuatan Kompos

    Dengan mengetahui bahwa kualitas kompos sangat dipengaruhi oleh proses pengolahan, sedangkan proses pengolahan kompos sendiri sangat dipengaruhi oleh kelembaban dan perbandingan C dan N bahan baku, maka untuk menentukan standarisasi kompos adalah dengan membuat standarisasi proses pembuatan kompos serta standarisasi bahan baku kompos, sehingga diperoleh kompos yang memiliki standar tertentu.

    Setelah standar campuran bahan baku kompos dapat dipenuhi yaitu kelembaban ideal 50 � 60 persen dan mempunyai perbandingan C / N bahan baku 30 : 1, masih terdapat hal lain yang harus sangat diperhatikan selama proses pembuatan kompos itu berlangsung, yaitu harus dilakukan pengawasan terhadap:

       1. Temperatur
       2. Kelembaban
       3. Odor atau Aroma, dan
       4. pH

    Pengamatan Temperatur

    Temperatur adalah salah satu indikator kunci di dalam pembuatan kompos.  Apakah panasnya naik ?  Sampai temperatur berapa panas yang dapat dicapai ?  Dalam berapa lama panas tersebut dapat dicapai ?  Berapa lama panas tersebut dapat berlangsung ?  Apa arti dari keadaan-keadaan tersebut ? Campuran bahan-bahan seperti apa yang dapat mempengaruhi profil temperatur ?

    Panas ditimbulkan sebagai suatu hasil sampingan  proses yang dilakukan oleh mikroba untuk mengurai bahan organik.  Temperatur ini dapat digunakan untuk mengukur seberapa baik sistim pengomposan ini bekerja,  disamping itu juga dapat diketahui sejauh mana dekomposisi telah berjalan.  Sebagai ilustrasi,  jika kompos naik sampai temperatur 40�C � 50�C, maka dapat disimpulkan bahwa campuran bahan baku kompos cukup mengandung bahan Nitrogen dan Carbon  dan cukup mengandung air (kelembabannya cukup) untuk menunjang pertumbuhan microorganisme.  Pengamatan temperatur harus dilakukan dengan menggunakan alat uji temperatur yang  dapat mencapai jauh ke dalam tumpukan kompos.  Tunggu sampai beberapa saat sampai temperatur stabil. Kemudian lakukan lagi di  tempat yang berbeda.   Lakukanlah pengamatan tersebut di beberapa lokasi, termasuk pada berbagai kedalaman dari tumpukkan kompos.  Kompos dapat memiliki kantong-kantong  yang lebih panas dan ada kantong-kantong yang dingin.  Semuanya sangat bergantung kepada kandungan uap air (kelembaban) dan komposisi kimia bahan baku kompos.  Maka akan diperoleh peta gradient temperatur.  Dengan menggambarkan grafik temperatur dan lokasi-lokasinya sejalan dengan bertambahnya waktu, maka dapat dijelaskan:

       1. Sudah berapa jauh proses dekomposisi berjalan
       2. Seberapa baik komposisi campuran bahan baku tersebut
       3. Seberapa rata campuran tersebut dan  dibagian mana campuran tidak rata
       4. Dibagian mana sirkulasi udara berjalan normal dan dibagian mana kurang normal.

    Dari informasi  diatas, maka dapat diambil keputusan langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk mencapai hasil akhir dan memperoleh kompos dengan kualitas yang diinginkan.

    Pada proses komposting yang baik, maka temperatur 40�C  � 50 0C dapat dicapai dalam 2 � 3 hari.  Kemudian dalam beberapa hari berikutnya temperatur akan meningkat sampai bahan baku yang didekomposisi oleh mikroorganisme habis. Dari situ barulah temperatur akan turun.

    Dari beberapa kali proses pembuatan kompos dengan sistim Windrow, dengan memakai campuran bahan baku kompos terdiri dari kotoran sapi, kotoran ayam, kotoran kambing, dedak dan jerami,  perubahan temperatur mencapai 40�C � 50 �C dapat dicapai dalam waktu 3 (tiga) hari.  Oleh karena itu pembalikan kompos dilakukan pada hari ke 4 (empat).

    Setelah pembalikan pertama temperatur akan turun, lalu naik lagi sampai mencapai 55�C � 60�C pada hari ke 6. Oleh karena itu dilakukan lagi pembalikan ke dua pada hari ke 6 (enam) atau 3 hari setelah pembalikan pertama, setelah pembalikkan temperatur akan turun dan naik lagi sampai 55�C � 60�C pada hari ke 9 (sembilan).  Pada hari ke 9 (sembilan) ini atau 3 hari setalah pembalikkan ke dua dilakukan lagi pembalikan ke 3 (tiga).

    Apabila komposisi campuran bahan baku tepat, temperatur akan stabil sampai hari ke 12 (dua belas) dan seterusnya, untuk kemudian turun dan stabil pada temperatur tertentu.
    Pada hari ke 14 tumpukan kompos dapat mulai dibuka untuk didinginkan dan kemudian selanjutnya dilakukan penyaringan dan pengepakan.

    Pengamatan Kelembaban

    Pembuatan kompos akan berlangsung dengan baik pada satu keadaan campuran bahan baku kompos yang memiliki kadar uap air antara 40 � 60  persen dari beratnya.  Pada keadaan level uap air yang lebih rendah, aktivitas mikroorganisme akan terhambat atau berhenti sama sekali.  Pada keadaan level  kelembaban yang lebih tinggi, maka prosesnya kemungkinan akan anerobik, yang akan menyebabkan timbulnya bau busuk.

    Ketika bahan baku kompos dipilih untuk kemudian dicampur, kadar uap air dapat diukur atau diperkirakan. Setelah proses pembuatan kompos berlangsung, pengukuran kelembaban tidak perlu diulangi,  tetapi dapat langsung diamati tingkat kecukupan kandungan uap air tersebut.
    Apabila proses pembuatan kompos sedang berjalan, lalu kemudian muncul bau busuk, sudah dapat dipastikan kompos mengandung kadar air berlebihan.  Kelebihan uap air ini telah mengisi ruang pori, sehingga menghalangi diffusi  oksigen melalui bahan-bahan kompos tersebut. Inilah yang membuat keadaan  menjadi anaerobik. Pencampuran bahan baku dengan potongan 4 � 10 cm, seperti bahan jerami, potongan kayu, kertas karton, serbuk gergaji dll dapat mengurangi permasalahan ini.

    Apabila melakukan pembuatan kompos dengan memakai sistim aerated static pile ataupun sistim in Vessel, berhati-hatilah dalam menambahkan udara (oksigen), jangan sampai menyebabkan kompos menjadi kering .  Indikasinya adalah perhatikan temperatur, jika temperatur menurun lebih cepat dari biasanya, maka ada kemungkinan kompos terlalu kering.

    Pengamatan Odor / Aroma

    Jika proses pembuatan kompos berjalan dengan normal, maka tidak boleh menghasilkan bau yang menyengat (bau busuk).  Walaupun demikian dalam pembuatan kompos tidak akan terbebas sama sekali dari adanya bau.  Dengan memanfaatkan indra penciuman, dapat dijadikan sebagai alat untuk mendeteksi permasalahan yang terjadi selama proses pembuatan kompos.
    Sebagai gambaran, jika tercium bau amonia, patut diduga campuran bahan kompos kelebihan bahan yang mengandung unsur Nitrogen (ratio C/N terlalu rendah).  Untuk mengatasinya tambahkanlah bahan-bahan yang mengandung  C/N tinggi, misalnya berupa:

        * Potongan jerami, atau
        * Potongan kayu, atau
        * Serbuk gergaji, atau
        * Potongan kertas koran dan atau karton dll

    Jika tercium bau busuk, mungkin campuran kompos terlalu banyak mengandung air.  Apabila ini terjadi, lakukanlah pembalikan (pada sistim windrow), tambahkan oksigen pada sistim Aerated Static Pile atau In Vessel.

    Pengamatan pH
    Pengamatan pH kompos berfungsi sebagai indikator proses dekomposisi kompos. Mikroba kompos akan bekerja pada keadaan pH netral sampai sedikit masam, dengan kisaran pH antara 5.5 sampai 8.
    Selama tahap awal proses dekomposisi, akan terbentuk asam-asam organik. Kondisi asam ini akan mendorong  pertumbuhan jamur dan akan mendekomposisi lignin dan selulosa pada bahan kompos. Selama proses pembuatan kompos berlangsung, asam-asam organik tersebut akan menjadi netral dan kompos menjadi matang biasanya mencapai pH antara 6 � 8.
    Jika kondisi anaerobik berkembang  selama proses  pembuatan kompos, asam-asam organik akan menumpuk. Pemberian udara atau pembalikan kompos  akan mengurangi  kemasaman ini.  Penambahan kapur dalam proses pembuatan kompos tidak dianjurkan. Pemberian kapur (Kalsium Karbonat, CaCo3) akan menyebabkan terjadinya kehilangan nitrogen yang berubah menjadi gas Amoniak. Kehilangan ini tidak saja menyebabkan terjadinya bau, tetapi juga menimbulkan kerugian karena menyebabkan terjadinya kehilangan unsur hara yang penting, yaitu nitrogen. Nitrogen sudah barang tentu lebih baik disimpan dalam kompos untuk kemudian nanti digunakan oleh tanaman untuk pertumbuhannya.

    MEMBUAT PUPUK KOMPOS DARI KOTORAN SAPI

    Pupuk kompos merupakan dekomposisi bahan � bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme.
    Bahan dasar pembuatan kompos ini adalah kotoran sapi dan bahan seperti serbuk gergaji atau sekam, jerami padi dll, yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah (misalnya stardec atau bahan sejenis) ditambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos, selain ditambah serbuk gergaji, atau sekam, jerami padi dapat juga ditambahkan abu dan kalsit/kapur. Kotoran sapi dipilih karena selain tersedia banyak di petani/peternak juga memiliki kandungan nitrogen dan potassium, di samping itu kotoran sapi merupakan kotoran ternak yang baik untuk kompos.

    Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi kelangkaan dan naiknya harga pupuk. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk sudah dilakukan petani secara optimal di daerah-daerah sentra produk sayuran. Sayangnya masih ada kotoran ternak tertumpuk di sekitar kandang dan belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber pupuk. Keluhan petani saat terjadi kelangkaan atau mahalnya harga pupuk non organik (kimia) dapat diatasi dengan menggiatkan kembali pembuatan dan pemanfaatan pupuk kompos.

    Proses
    Prinsip yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah proses pengubahan limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktivitas biologis pada kondisi yang terkontrol.
    Bahan yang diperlukan adalah
    1. kotoran sapi
    2. 80 � 83%, serbuk gergaji (bisa sekam, jerami padi dll)
    3. 5%, bahan pemacu mikroorganisame
    4. 0.25%, abu sekam
    5. 10% dan
    6. 2% kalsit/kapur
    7. Boleh menggunakan bahan-bahan yang lain asalkan kotoran sapi minimal 40%, serta kotoran ayam 25 %
    Tempat pembuatan adalah sebidang tempat beralas tanah dan dibagi menjadi 4 bagian (lokasi 1, 2, 3, 4) sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan dan tempat tersebut ternaungi agar pupuk tidak terkena sinar matahari dan air hujan secara langsung. Prosesing pembuatannya adalah pertama kotoran sapi (fases dan urine) diambil dari kandang dan ditiriskan selama satu minggu untuk mendapatkan kadar air mencapai �+ 60%, kemudian kotoran sapi yang sudah ditiriskan tersebut dipindahkan ke lokasi 1 tempat pembuatan kompos dan diberi serbuk gergaji atau bahan yang sejenis seperti sekam, jerami padi dll, serta abu, kalsit/kapur dan stardec sesuai dosis, selanjutnya seluruh bahan campuran diaduk secara merata.
    Setelah satu minggu di lokasi 1, tumpukan dipindahkan ke lokasi 2 dengan cara diaduk/dibalik secara merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu hingga mencapai 70 derajat celcius untuk mematikan pertumbuhan biji gulma sehingga kompos yang dihasilkan dapat bebas dari biji gulma.

    Kamis, 07 Oktober 2010

    Pembakar Sekam Hasilkan Pupuk Organik

    SEKTOR pertanian masih menjadi andalan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terdiri dari 2 pulau besar yakni Sumbawa dan Lombok.Tanah di Lombok relatif subur sementara di Sumbawa cenderung kering dan mengandalkan pertanian tadah hujan.
    Hal ini masih diperparah dengan kesulitan para petani mendapatkan pupuk untuk kesuburan tanah. Berawal dari itu tercetus ide membuat alat pembakar sekam untuk menghasilkan pupuk organik. Dengan begitu para petani di Sumbawa tak perlu lagi mengandalkan pupuk kimia. Selain mengembalikan kesuburan tanah juga lebih hemat karena bisa produksi sendiri.
    Kabid Pengelolaan Sumber Daya Air dan Teknologi Tepat Guna (PSDA & TTG) Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Provinsi NTB, Mustakim ST MT kepada KR mengatakan, komponen alat tersebut sangat sederhana dan tidak mahal.
    ”Alat pembakar sekam ini rencananya akan kami ajukan ke Dirjen HAKI untuk mendapat hak paten. Alat ini masih baru sekitar 6 bulan lalu tapi para petani sudah tak asing lagi,” jelasnya di stand Provinsi NTB pada Pameran TTG di JEC, belum lama ini.
    Setiap tahunnya petani di Sumbawa melakukan 3 kali tanam 2 kali padi dan palawija. Dengan adanya alat pembakar sekam ini para petani memiliki stok pupuk cukup. Terlebih bahan baku sekam di sekitar petani cukup melimpah dan kerap terbuang.
    ”Selama ini sekam padi hanya dibakar biasa dengan adanya alat ini bisa untuk membuat pupuk organik juga media tanam. Kalau digunakan sendiri sudah cukup bisa dijual,” kata Mustakim.
    Komponen alat pembakar sekam antara lain terdiri dari 1 kaleng bekas yang dilubangi, seng dan pipa. Cara kerjanya cukup sederhana dengan menanam sekam di dalam tanah dan di atasnya diletakkan alat tersebut. Penggunaan alat ini juga sudah memasyarakat di kalangan petani Sumbawa.
    Menurut Mustakim para petani mampu menghasilkan pupuk organik yang dijual seharga Rp 15 ribu maupun media tanam Rp 10 ribu. Penggunaan pupuk organik dari sekam ini juga mampu mengembalikan kesuburan tanah.